Blog ini berisi tulisan orang lain. Sengaja saya kumpulkan disini agar bisa dibaca lagi di lain waktu, oleh saya dan oleh kita semua.
WHAT'S NEW?
Loading...


Orang yang paling sulit dihadapi bukan mereka yang marah-marah terang-terangan, tetapi yang terus-menerus menguji kesabaran kita dengan sindiran, pertanyaan berulang, atau sikap meremehkan. Kontroversinya, semakin kita bereaksi cepat, semakin mereka merasa menang. Fakta menariknya, penelitian komunikasi interpersonal menunjukkan bahwa orang yang mampu mengelola reaksi emosinya dalam percakapan justru lebih dominan dalam jangka panjang, karena kontrol diri adalah bentuk kekuasaan terselubung.

 



Oleh : Yani Nur Syamsu

 

Dua puluh tahun lebih menjadi sipir penjara sungguh membuat saya nyaris tenggelam dalam genangan cerita pedih yang terus mengalir dari garong, copet, maling kecil, pembunuh, perampok sampai koruptor yang mengharuskan orang-orang itu menghuni lembaga pemasyarakatan ini. Hampir saja saya berani menyimpulkan bahwa tempat ini hanya berisi orang-orang sakit jiwa jika saya tidak menemukan beberapa lembar catatan disebuah sel. Tulisan tangan seorang narapidana mantan opsir polisi yang seminggu lalu menembak batok kepalanya sendiri dengan sepucuk senjata yang direbutnya dari teman saya yang sedang bertugas.

 



Adhi Djimar (sekarang udah almarhum) sering bercerita tentang pengalamannya dulu sewaktu kuliah di New York. Ada satu kisahnya yang sangat menarik. Waktu itu Adhi sedang mengikuti mata kuliah Business Development. Adhi berkisah bagaimana selama 1 semester itu dosennya mengajar dengan cara yang unik.

 

Hari pertama, semua mahasiswa dalam kelas ditanya bisnis apa yang akan mereka bangun. Jawaban ditulis di kertas lalu kertas tersebut dikumpulkan di meja dosen. Adhi menulis bahwa dia akan membangun sebuah cafe. Hahahaha... Adhi itu satu spesies sama saya. Dulu kami doyan banget hang out di kafe.

 



Banyak orang tua salah paham: kecerdasan anak bukan ditentukan dari banyaknya les tambahan, melainkan dari kebiasaan sederhana yang mereka lakukan sejak pagi hari. Dalam buku “Brain Rules for Baby” karya John Medina, dijelaskan bahwa rutinitas kecil yang konsisten di pagi hari mampu meningkatkan fokus, kreativitas, bahkan regulasi emosi anak. Artinya, cara anak memulai hari akan berpengaruh langsung pada kualitas otaknya sepanjang hidup.

 

Anak-anak kerap meniru pola hidup orang tuanya. Jika pagi mereka dipenuhi dengan tergesa-gesa, amarah, atau distraksi gadget, otak mereka belajar pola stres yang sama. Sebaliknya, jika pagi dimulai dengan kebiasaan sehat, otak mereka terlatih untuk lebih tenang, teratur, dan terbuka pada pembelajaran. Pertanyaannya, apa saja kebiasaan sederhana yang bisa menumbuhkan kecerdasan sejak pagi?

 



Algoritma media sosial membantu menampilkan konten yang sesuai dengan minat penggunanya, yang membuat pengalaman online mejadi lebih menyenangkan dan interaktif. Misal diputar video film drama remaja, maka akan ada banyak judul film sejenis yang ditampilkan. Atau saat mencari sebuah model sepatu di toko online, maka setelah itu akan ada puluhan model sepatu serupa yang muncul dan menunggu di-klik.

 



Yang bikin argumenmu lemah bukan karena kamu salah, tapi karena kamu asal ngomong.

 

Dalam studi dari Carnegie Mellon University, ditemukan bahwa argumen yang mengikuti struktur logis lebih mudah diterima dan diingat oleh audiens hingga 40 persen lebih lama dibanding opini biasa yang tak terstruktur. Logika bukan hanya membuatmu terdengar pintar, tapi juga sulit dipatahkan.

 


Oleh: Dr Hamid Fahmy Zarkasyi

 

Sekitar tahun 1992 Prof. Dr. Mukti Ali disela-sela sebuah seminar di Gontor tiba-tiba bergumam, “Bagi saya Islamisasi ilmu pengetahuan itu omong kosong, apanya yang diislamkan, ilmu kan netral”. Prof. Dr. Baiquni yang waktu itu bersama beliau langsung menimpali “Pak Mukti tidak belajar sains, jadi tidak tahu dimana tidak Islamnya ilmu (sains) itu”.