Blog ini berisi tulisan orang lain. Sengaja saya kumpulkan disini agar bisa dibaca lagi di lain waktu, oleh saya dan oleh kita semua.
WHAT'S NEW?
Loading...

DAMPAK ALGORITMA MEDSOS PADA ANAK SEKOLAH



Algoritma media sosial membantu menampilkan konten yang sesuai dengan minat penggunanya, yang membuat pengalaman online mejadi lebih menyenangkan dan interaktif. Misal diputar video film drama remaja, maka akan ada banyak judul film sejenis yang ditampilkan. Atau saat mencari sebuah model sepatu di toko online, maka setelah itu akan ada puluhan model sepatu serupa yang muncul dan menunggu di-klik.

 

Hal ini bisa menjadi racun apabila seseorang apalagi anak sekolah terpapar oleh konten yang tidak bijaksana terlebih jika termotivasi untuk melakukannya. Saya tidak bilang media sosial itu jelek. Secara absolute atau universal ada yang bagus tapi sampahnya lebih banyak dan perlu kita kurangi. Kali ini saya membahas apa saja dampak buruknya algoritma medsos terhadap anak sekolah pada khususnya.

 

1.      Kecanduan: Algoritma media sosial dirancang untuk menciptakan kecanduan, dan membuat anak sekolah khususnya sulit mempertahankan perhatian/fokus terhadap pelajaran yang ada di sekolah.

2.      Penurunan Kualitas Tidur: Paparan cahaya biru dari layar gadget menghambat produksi melatonin, yang menyebabkan gangguan pola tidur alami.

3.      Isolasi Sosial: Penggunaan media sosial yang berlebihan dapat membatasi kemampuan anak untuk mempelajari keterampilan sosial secara langsung dan mengembangkan perilaku yang tidak sesuai.

4.      Gangguan Mental: Media sosial dapat memicu gangguan mental seperti depresi dan kecemasan, terutama pada remaja perempuan yang sering kali dibandingkan dengan standar kecantikan yang tidak realistis.

5.      Resiko Kebocoran Data: Data pribadi anak dapat bocor dan disalahgunakan oleh pihak lain.

6.      Perilaku Adiktif: Algoritma media sosial dapat dirancang untuk membuat anak-anak ketagihan dan menghabiskan waktu berjam-jam di platform.

7.      Fomo (Fear of missing out): Takut ketinggalan sesuatu yang lagi nge-trend, itu mungkin sudah kita lihat entah di televisi dan handphone, kita melihat orang lagi membeli sesuatu hal yang lagi tren dan viral atau pun membuat konten video joget viral yang sudah marak terjadi, tapi dampaknya terhadap masyarakat apalagi anak sekolah yang terpapar oleh konten-konten tersebut sangat signifikan dan merekapun merasa ingin atau termotivasi untuk melakukan hal seperti dikonten yang ia lihat.

8.      Perbandingan Sosial: Algoritma media sosial yang dapat memfasilitasi perbandingan sosial antara pengguna, membuat mereka merasa bahwa mereka tidak cukup baik atau populer jika tidak memiliki like, followers, atau komentar yang sama dengan orang lain.

 

Jenis konten buruk pun beragam, yang mungkin sering terpapar anak sekolah di Indonesia dapat berupa:

1.      Konten Pornografi: Konten pornografi dapat mempengaruhi perkembangan seksual anak dan menyebabkan mereka memiliki pandangan yang tidak seimbang tentang seksualitas.

2.      Konten Kekerasan: Konten yang menampilkan kekerasan, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mempengaruhi perilaku dan emosi anak.

3.      Konten Ujaran Kebencian: Konten yang mengandung ujaran kebencian dapat mempengaruhi sikap dan perilaku anak terhadap kelompok tertentu, seperti ras, agama, atau suku misal (J@wir-J@wir) what the hell

4.      Konten Penipuan: Konten yang mengandung penipuan atau informasi palsu dapat menjadi kerugian terhadap anak.

5.      Konten Yang Mempromosikan Perilaku Negatif: Konten yang mempromosikan perilaku negatif, seperti merokok, minum alkohol, atau penggunaan narkoba, dapat mempengaruhi perilaku anak dan meningkatkan risiko mereka untuk terlibat dalam perilaku tersebut.

 

Bagaimana kita sebagai seorang baik orang tua, guru dan masyarakat untuk mengatasi dampak negatif ini, orang tua dan pendidik dapat melakukannya dengan:

1.      Memberi Edukasi Digital: Mengajarkan anak tentang literasi digital dan cara mengenali informasi yang kredibel.

2.      Menerapkan Kontrol & Pengawasan: Menggunakan fitur kontrol orang tua untuk membatasi akses ke situs web atau aplikasi yang tidak sesuai.

3.      Meningkatkan Kesadaran: Meningkatkan kesadaran anak tentang risiko dan dampak negatif media sosial.

4.      Melibatkan Sekolah: Melibatkan sekolah juga mungkin ampuh dalam memberikan edukasi dan pengawasan media sosial kepada anak secara efektif apabila misalnya orang tua murid tidak melek teknologi.

 

Solusi yang saya tulis diatas hanya sebatas teori saja kalau memang tidak dilakukan, dan ini memang menjadi sesuatu yang harus dan wajib dilakukannya edukasi digital kepada anak sekolah khususnya, karena mereka adalah korban terbanyak yang terpapar konten yang tidak bijaksana tadi, ini PR untuk kita semua karena ini problem yang besar yang menghambat produktivitas anak kita untuk belajar disekolah.

 

Sekian

 

Sumber : FB Alexander Agung

 

0 Comments:

Posting Komentar