Blog ini berisi tulisan orang lain. Sengaja saya kumpulkan disini agar bisa dibaca lagi di lain waktu, oleh saya dan oleh kita semua.
WHAT'S NEW?
Loading...

TEORI JENDELA PECAH



Dalam ilmu Kriminologi dan Psikologi Sosial, ada teori yang bernama: Broken Windows Theory. Bahasa Indonesianya adalah: Teori Jendela Pecah. Konsepnya adalah: sebuah obyek yang tampak tidak terurus, akan memicu perilaku yang lebih buruk.

 

Penjelasan gampangnya, begini: Coba kita bayangin, sebuah bangunan yang punya satu jendela pecah dan tidak segera diperbaiki. Cuma ada satu lho, jendela yang pecah! Jendela-jendela lain, nggak pecah. Tapi, jendela pecah yang baru sebiji ini, membuat orang-orang yang lewat, berpikir: “Oooh, rumah ini nggak dirawat. Nggak dipedulikan. Nggak dijaga.”

 

Nah, kalau orang yang lewat itu adalah orang yang beradab… rumah itu aman. Karena Si Beradab ini, nggak tertarik untuk merusak apapun. Meskipun terhadap obyek yang nggak dijaga dan nggak dipedulikan. Tapi kalau yang lewat adalah Orang Liar nan barbar, yang nggak tahu adab dan nggak terdidik? Gimana…? Sangat bisa jadi, orang liar ini akan melemparkan batu, dan memecahkan kaca jendela lebih banyak lagi.

 

Ketika sudah ada beberapa jendela yang pecah, maka rumah itu akan semakin ‘mengundang’ para vandalis (tukang bikin rusak lingkungan) untuk datang bergantian:

~ ada yang mencoret-coret temboknya…

~ ada yang mencuri pagar besinya…

~ ada yang membuang sampah…

~ ada yang mengencingi…

 

Entah kenapa mereka melakukan itu.

1. Bisa karena kompensasi, atas EMOSI NEGATIF yang menumpuk di diri mereka…

2. Bisa juga karena mereka ingin memiliki ‘rasa berkuasa’. Jadi waktu melihat ada obyek yang tak terurus, dia menuruti dorongan bawah sadar untuk menegaskan dominasi, atau mengekspresikan agresi. Mumpung rumah kosong itu, nggak ada yang peduli.

3. Bisa juga karena merasa dapat kesempatan berbuat buruk tanpa hukuman. Rumah rusak itu menjadi simbol yang tepat, sebagai objek yang ‘boleh’ dirusak tanpa ada konsekuensi.

4. Atau bisa juga karena norma sosial di sekitarnya telah bergeser: mereka memiliki budaya merusak, karena begitulah yang dianggap ‘normal’.

 

Intinya: Karena ada kerusakan kecil yang dibiarkan, maka secara psikologis, orang-orang akan menganggap hal itu sebagai IZIN SECARA TAK LANGSUNG dari pemilik rumah, untuk melakukan kerusakan lanjutan atas rumah tersebut.

 

Bagaimana teori ini terjadi dalam kehidupan sehari-hari? Aku akan memberikan 3 kisah nyata untuk menggambarkannya…

 

Kisah Pertama

Salah satu karyawanku, menikahi duda yang punya sejarah KDRT berat terhadap istrinya yang dulu (sampai pernah dilaporkan dengan visum segala). Fakta ini, baru diketahui setelah karyawanku TERLANJUR menikah dengan pelaku KDRT. Karyawanku mengkonfrontir suami barunya, dan menegaskan kalau dia nggak sudi diperlakukan seperti istri lama. Karyawanku bahkan memberi ultimatum: sekali saja lo ‘kasih tangan’ ke gue, urusannya bakal gue bikin jadi dua pilihan: lo yang mati atau gue yang mati. Gue nggak takut dipenjara.

 

Terbukti, pernikahan 8 tahunnya aman. Karyawanku tidak mendapatkan perundungan, dari orang yang dulunya ‘hobi’ KDRT.

 

Kisah Kedua:

Dulu, aku kuliah di Bandung. Pernah dating dengan mahasiswa dari kampus lain, jurusan lain, dan angkatannya lebih tua 2 tahun dariku. Pada suatu malam minggu, pertama kali kami pergi berdua (sebelumnya cuma ngobrol di kost dan pergi rame-rame), nonton musik di Bumi Sangkuriang.

 

Di tengah acara break, cowo itu ngajak jalan-jalan ke luar gedung. Bumi Sangkuriang memang punya lahan seluas 2,5 hektar dan berisi taman yang asri seperti Kebun Raya Bogor. Nah si cowo ini, berusaha menciumku. Aku nggak mau. Ya bukannya apa… Meskipun dia ganteng dan akupun naksir, tapi kissing di dating pertama itu, menurutku: NGGAK BANGET!!!! Jadi aku mendorongnya, dan membentaknya. Bukannya mundur, dia malah mencengkeram bahuku dengan kedua tangannya, dan memaksa mencium.

 

Aku angkat dengkulku, ‘menendang’ selangkangan dia dengan dengkul. Berhasil! Dia mengerang dan mundur. Tapi aku dimaki sama dia. Lah aneh. Dia yang kurang ajar, kok aku yang dimaki? Aku kan cuma membela diri. Rusak, logika orang ini! Pikirku begitu.

 

Aku segera mencari satpam, melapor. Dan meminjam telepon di kantor manajemennya, untuk minta pembantu di rumah kostku, untuk menjemputku dengan motornya (zaman itu belum ada handphone dan belum ada gojek). Entah, gosip apa yang beredar di dua kampus (kampusku dan kampus dia)… tapi kuperhatikan, tidak ada cowo yang memperlakukanku dengan seenaknya. Padahal, aku juga bukan cewe sangar yang gimana-gimana.

 

Kisah Ketiga:

Aku pernah bekerja di sebuah Yayasan Pendidikan, yang khusus memberikan pelatihan ke guru-guru. Semua yayasan seperti kami, perlu surat izin operasional dari pemerintah. Nah, masalahnya surat izin ini tak kunjung keluar. Indikasinya jelas: oknum pengurusnya MINTA DIBAYAR 3 JUTA (ini sekitar tahun 2006-2007). Kami tidak bersedia ‘nyogok’. Jadi petugas admin yayasan kami, selalu bolak-balik dengan tangan hampa.

 

Akhirnya aku turun tangan. Waktu itu jabatanku Wakil Ketua Yayasan. Aku datang ke kantor ‘mereka’, membawa laptop, dan setumpuk buku. Aku datang meminta surat izin, tapi disuruh untuk BERSABAR, dan diminta datang lagi di hari yang lain. Oke, aku sabar.

 

Aku keluar ruangan beliau, lalu aku duduk di kursi di selasar. Menyalakan laptopku, menata buku… lalu AKU BEKERJA PERSIS DI DEPAN PINTU SANG OKNUM. S.a.m.p.a.i…s.o.r.e. Setiap kali si oknum keluar ruangan, entah untuk makan siang, ke toilet, atau kemana lah… aku selalu menyapa: “Saya tunggu ya pak…”

 

Btw, aku bawa bekal makan siang dan bekal minum. TIGA HARI PENUH aku melakukan aksiku itu! Tentu, aku sempat disikapi dengan ketus dan disuruh pulang. Tapi aku jawab dengan tenang, “Nggak papa Pak, saya tunggu saja… Saya bisa kerja kok, di sini.”

 

Hari ketiga, kepala kantor melihatku duduk di tempatku. Dia menyapa, mencari tahu apa keperluanku. Semua pertanyaanya kujawab sopan. Kata beliau, beliau akan mengurus. Aku dipersilakan pulang. Aku jawab, saya hanya akan pulang pada jam kantor selesai, besok saya akan datang lagi sesuai jam kerja pagi.

 

Akhirnya??? Surat izin itu BELIAU PERINTAHKAN untuk diselesaikan hari itu juga. Tanpa biaya apapun; hanya membayar materai 6.000. Aku menyerahkan uang 10.000. Pak Oknum mengembalikan dengan nominal 4.000. Uang kembalian itu, kuterima dan kukantongi.

 

Sejak itu… Yayasan kami nggak pernah dipersulit untuk membuat perpanjangan izin. Selalu lancar. Dan sebagai belasannya? Setiap lebaran kami mengirimkan parcel berisi buku pendidikan, buah dan kue… dengan rangkaian yang cantik, untuk bapak tersebut. (Zaman itu, pemberian parcel belum dianggap gratifikasi).

 

Jadi… prinsipnya jelas:

Aku menjaga rumahku…

Aku menjaga diriku…

Aku menjaga pekerjaan dan bisnisku…

Aku menjaga akunku…

sedemikian rupa sehingga orang-orang tidak menganggapku telah memberikan IZIN SECARA TAK LANGSUNG untuk melakukan hal-hal yang semena-mena.

Jangan ada satupun ‘jendela pecah’ pada dirimu, dan kamu membiarkannya tetap pecah. Segera perbaiki!

 

Sumber : FB Na Padmo OFC

 

0 Comments:

Posting Komentar