Adhi Djimar (sekarang udah almarhum) sering
bercerita tentang pengalamannya dulu sewaktu kuliah di New York. Ada satu
kisahnya yang sangat menarik. Waktu itu Adhi sedang mengikuti mata kuliah
Business Development. Adhi berkisah bagaimana selama 1 semester itu dosennya mengajar
dengan cara yang unik.
Hari pertama, semua mahasiswa dalam kelas ditanya
bisnis apa yang akan mereka bangun. Jawaban ditulis di kertas lalu kertas
tersebut dikumpulkan di meja dosen. Adhi menulis bahwa dia akan membangun
sebuah cafe. Hahahaha... Adhi itu satu spesies sama saya. Dulu kami doyan
banget hang out di kafe.
"Okay, selama 1 semester ini kalian harus
membuat proposal bisnis ke investor. Jadi silakan susuri kota New York untuk
merealisasi business plan kalian," kata Sang Dosen.
"Ke investor? Yang nyari investornya
siapa?" tanya seorang mahasiswa.
"Saya yang akan bawa investornya," jawab
Pak Dosen.
"Jadi tiap kuliah kita akan diskusi rame-rame
ngebahas proposal masing-masing?" tanya yang lain.
"Kita gak ada jadwal kuliah lagi. Jadi siapa
yang mau menyampaikan progress report bisnisnya, silakan telepon saya. Kita
akan bikin janji bertemu. Kalian akan saya hadapi satu persatu."
"Gak ada kuliah di kelas sama sekali?"
tanya Adhi keheranan.
"Gak ada. Kuliahnya berlangsung one on one.
Kita bisa ketemu di resto, kafe atau di perpustakaan."
Minggu depannya, setelah blusukan di kota Big
Apple untuk mencari lokasi, Adhi menelpon Sang Dosen dan bikin janji untuk
mempresentasikan progress reportnya.
"Kamu mau buat kafe di distrik ini?"
tanya Sang Dosen sambil menunjuk peta yg digelar Adhi di meja.
"Betul, Pak."
"Pertanyaan saya. Ada berapa kafe di sana?
Apakah ada pengkategorian dari kafe-kafe tersebut? Kafe yang terdapat dalam 1
kategori punya diferensiasi apa dibanding yang lain?"
Adhi yang tidak siap mendengar pertanyaan dosennya
langsung gagap. Dia minta waktu untuk untuk menjawab pertanyaan itu di
pertemuan berikutnya. Sang dosen mengangguk tanda setuju.
"Jadi kapan kita bisa ketemu lagi, pak?"
tanya Adhi.
"Kamu gak usah tanya kapan waktunya. Silakan
atur waktu sendiri. Pokoknya setiap kamu merasa ada progress yang pantas
dilaporkan, silakan telpon saya."
Di pertemuan kedua, Adhi sudah siap dengan jawaban
dan dengan PD langsung mempresentasikannya pada Sang Dosen.
"OK, jadi kamu punya 20 kompetitor. Nah,
berapa sewa lokasi yang harus kamu keluarkan? Datanya harus tepat. Tidak boleh
berdasarkan perkiraan."
"OK, nanti saya cari datanya."
"Hitung juga berapa biaya untuk design
interiornya. Perhitungannya harus akurat dari interior designer beneran."
Di pertemuan ketiga, Sang Dosen mempertanyakan
soal target audience. "Target yang akan kamu tuju apakah konsumen baru
atau merebut pasar kompetitor?"
"Mencari konsumen baru..." jawab Adhi
ragu-ragu.
"Mereka itu siapa? Kenapa selama ini mereka
gak pernah nongkrong di kafe? Lalu apa strategi kamu supaya orang-orang
tersebut akhirnya mau pergi ke kafe dan memilih kafe kamu?"
Adhi makin bingung, "Eeee...mungkin saya akan
merebut konsumen kafe lain juga. Jadi saya punya dua target sasaran."
"Konsumen biasanya sangat loyal pada tempat
nongkrongnya. Mereka sulit diajak berpindah tempat. Strategi apa yang membuat
kamu berharap mereka akan eksodus ke kafe kamu."
"Harga bir di kafe saya jauh lebih murah..."
jawab Adhi sekenanya.
"Berapa harga bir di tempat lain?"
"Belum saya cek."
"Silakan dicek harga bir di 20 kafe
kompetitor kamu. Apakah semua harganya sama. Supaya datanya akurat, kamu bisa
memotret harga-harga tersebut di buku menu yang terdapat di sana."
"Ok, Pak."
"Kalo harganya beda, coba cek kenapa bisa
beda. Pilih yang paling murah lalu hitung, kafe kamu bisa ngasih lebih murah
sampe berapa persen. Perhitungannya harus akurat dari orang finance beneran.
Karena berbisnis gak boleh rugi."
Pertemuan berikutnya, Adhi kembali dicecar
pertanyaan. "Apakah kamu menyediakan entertainment? Kalo iya, berapa biaya
yang harus kamu keluarkan untuk itu. Seberapa signifikan entertainment itu
mempengaruhi jumlah pengunjung?"
Pertemuan selanjutnya, "Kamu mau bikin dapur
gak? Apa pengunjung cuma dikasih snack-snack aja? Kalo pake dapur berapa investasi
yang harus dikeluarkan?"
Karena capek harus bolak-balik melulu, Adhi nanya,
"Bisa gak semua pertanyaan Bapak disampaikan sekarang sekaligus? Supaya
kerja saya lebih efisien..."
"Gak bisa. Saya tidak pernah menyiapkan
pertanyaan apapun. Pertanyaan saya spontan berdasarkan progress report yang
kamu sampaikan."
"Okay kalo begitu. Saya sempurnakan lagi
proposalnya." Kata Adhi dengan hati gundah. Sudah berbulan-bulan dia
mengerjakan proposal tersebut tapi dosen ini gak pernah puas. Selalu saja dia
menemukan suatu kesalahan yang gak terpikirkan oleh Adhi.
"Kalo datanya sudah lengkap, coba kamu ulik
lagi strategi bisnis kamu berdasarkan data yang baru."
"Baik, Pak."
"Yang paling penting, kamu harus bikin
estimasi berapa lama bisa mencapai Break Even Point. Makin singkat waktunya,
investor makin tertarik."
"Siap, Pak."
"Jika proposal kamu sudah selesai dan saya
anggap layak present, saya akan bawa investor untuk penilaian akhir proposal
kamu." sahut Si Dosen menepuk-nepuk pundak Adhi lalu meninggalkannya sendiri
di resto kecil tempat diskusi mereka.
Waktu berlari begitu kencang dan tau-tau Adhi
sudah berada di ujung semester. Akhirnya hari yang mendebarkan itu tiba. Di
sebuah resto, Adhi mempresentasikan proposal bisnisnya. Semua sudah dilengkapi
dengan detil sampai ke angka-angkanya pun sudah aktual.
Sesuai janji, hari itu Sang Dosen mengajak
investor untuk ikut menilai tugas Adhi. Selesai presentasi, ketiganya terdiam.
Adhi menunggu masukan dari Sang Dosen sementara Si Dosen menunggu komentar Sang
Investor.
Setelah menghela napas panjang, Si Investor
berkata, "Bisnis Kafe di New York sudah red ocean. Selama 5 tahun
belakangan ini, saya tidak pernah melihat ada kafe baru yg sukses."
Adhi mulai putus asa. Sementara Sang dosen masih
terdiam sampai si investor melanjutkan omongannya.
"Kecuali kalo kamu punya sesuatu yang
breakthrough, mungkin saya akan pertimbangkan. Tapi saya gak menemukan sesuatu
yang baru. Dari segi bisnis, proposal ini terlalu basic. Saya tidak tertarik
sama sekali. Sorry."
Hancurlah perasaan Adhi. Dengan langkah lunglai,
dia pun pulang ke apartemennya. Hampir setengah tahun dia menghabiskan waktu
mengubek-ubek kota New York demi membuat proposal bisnis yang keren. Dan
tragisnya, jerih payah itu berakhir cuma dengan kalimat, "Proposal kamu
terlalu basic. Saya tidak tertarik. Sorry."
Tapi Tuhan itu memang maha humor. Di papan
pengumuman ternyata nama Adhi tercantum sebagai mahasiswa yang lulus. Bukan
cuma lulus tapi lulus dengan nilai A. Yeay! Saking senengnya, Adhi langsung
menelpon dosennya dan menanyakan alasannya kenapa dia bisa lulus.
"Kok pake ditanya segala? Alasannya pasti
karena proposal bisnis kamu keren. Yang kamu lakukan selama 1 semester ini
adalah beneran yang ada di dunia nyata." Terdengar jawaban dosen di ujung
telepon.
"Tapi investor itu menolak proposal
saya?" tanya Adhi masih bingung.
"Semua investor pasti akan menolak proposal
kamu. Tapi itu bukan berarti proposal kamu jelek, kan?"
Adhi masih belum mengeluarkan suara sampai
terdengar lagi suara dari seberang sana.
"OK, congratz Adhi. Go somewhere and
celebrate. Bye!" kata Pak Dosen menutup teleponnya.
Saya terkagum-kagum mendengar cerita Adhi. Selama
jadi mahasiswa, saya selalu kuliah beramai-ramai. Dan biasanya kami sering
memilih tempat duduk paling belakang biar gak ditemukan dan ditanya-tanya sama
guru.
Yang terjadi pada Adhi adalah sebaliknya. Dia yang
harus mencari dosennya. Dia harus berhadapan sendiri di depan dosen tanpa
teman. Bahkan Adhi jugalah yang harus menentukan sendiri jadwal kuliahnya.
Tapi yang paling saya suka dari cerita Adhi adalah
cara dosennya mengajar.
Metode yang digunakannya sangat membuat
mahasiswanya BERPIKIR.
Membuat mahasiswanya terlatih untuk senantiasa
menggunakan otaknya. Keren ya?
Al Fatihah buat Adhi Djimar
Judul Asli: ORANG INDONESIA KURANG TERLATIH
MENGGUNAKAN OTAKNYA #2
Sumber: Budiman Hakim, FB Diana

0 Comments:
Posting Komentar