Blog ini berisi tulisan orang lain. Sengaja saya kumpulkan disini agar bisa dibaca lagi di lain waktu, oleh saya dan oleh kita semua.
WHAT'S NEW?
Loading...

CATATAN SEORANG NARAPIDANA



Oleh : Yani Nur Syamsu

 

Dua puluh tahun lebih menjadi sipir penjara sungguh membuat saya nyaris tenggelam dalam genangan cerita pedih yang terus mengalir dari garong, copet, maling kecil, pembunuh, perampok sampai koruptor yang mengharuskan orang-orang itu menghuni lembaga pemasyarakatan ini. Hampir saja saya berani menyimpulkan bahwa tempat ini hanya berisi orang-orang sakit jiwa jika saya tidak menemukan beberapa lembar catatan disebuah sel. Tulisan tangan seorang narapidana mantan opsir polisi yang seminggu lalu menembak batok kepalanya sendiri dengan sepucuk senjata yang direbutnya dari teman saya yang sedang bertugas.

 

“Thole, cah njenot, bocah pidekso. Engkau adalah satu satunya penerus trah Senaprawira. Bikinlah anak sebanyak mungkin, lima, sepuluh kalau bisa dua puluh. Apalah arti dua puluh hektar sawah, sepuluh penggilingan padi dan belasan armada bus milik kita itu jika tidak ada ahli waris di keluarga ini. Eyang-eyangmu di alam sana akan bangga bila engkau bisa melahirkan sebanyak mungkin keturunan. Engkau seorang prajurit, ngger, masak sih bikin anak saja tidak bisa,” petuah rama, ayahku, menjelang pesta perkawinanku yang berlangsung tujuh hari tujuh malam, lebih dari sepuluh tahun lalu itu. Aku hanya bisa mengangguk dan menjawab,”Sendika dawuh, rama.”

 

Bagi rama, kelestarian garis keturunan Senaprawira, eyang buyutku, adalah harga mati. Aku sendiri heran, kenapa para leluhur selalu hanya mendapatkan seorang keturunan. Eyang buyutku itu beristrikan empat orang wanita, dapat anak hanya satu, Bimaprakosa. Eyang Bimaprakosa mengawini tiga orang perempuan sekaligus, tetapi juga cuma menghasilkan seorang anak, Setabirawa, rama-ku. Anehnya lagi, dari empat orang istri sah kanjeng rama, hanya ibuku yang memberikan keturunan, Bismaka, aku sendiri.

 

Kalau dulu, Anda pernah datang ke desa Wukirsari di lereng gunung Merapi yang indah dan sangat sejuk itu, maka hampir bisa di pastikan anda akan mendengar orang-orang bercerita tentang anak tunggal juragan Setabirawa yang gagah, pintar, khusuk beribadah dan sangat baik hati. Anak muda itu selalu siap sedia membantu siapapun yang mengalami kesulitan, mengantar ke puskesmas atau bahkan ke rumah sakit di kota Yogya jika ada warga yang sakit atau mau melahirkan. Bukan itu saja, pada waktu itu di desa Wukirsari tidak ada seorang anakpun yang tidak bisa masuk sekolah dasar karena kakurangan biaya. Bismaka, dengan bantuan rama-nya tentu saja, akan memberikan sumbangan sehingga anak-anak yang kekurangan itu bisa mengenyam pendidikan, paling tidak sampai tamat sekolah menengah pertama.

 

Itulah hasil didikan dan kerja keras ibuku yang selalu menekankan bahwa harta benda adalah titipan Tuhan yang harus senantiasa disyukuri dengan mengulurkan bantuan kepada siapapun yang membutuhkan. Karena sebenarnyalah bahwa sebagian dari kekayaan itu adalah hak dari mereka.

 

Sungguh mati bukan hanya aku yang menyatakan bahwa wanita yang menghabiskan masa mudanya di pondok pesantren itu benar-benar luar biasa. Secara diam-diam aku meyakini bahwa keberhasilan usaha rama, sebagian besar adalah karena kepiawaian ibu. Meski hanya bermain di belakang layar, sesungguhnya pemikiran dan strategi ibulah yang digunakan rama untuk memutar roda usahanya. Atau, coba carilah perpustakaan di daerah kami, maka Anda tidak akan pernah menemukannya di kantor kelurahan atau bahkan di kantor kecamatan sekalipun. Anda justru akan menemukannya di rumah kami, itulah perpustakaan pribadi ibuku yang terbuka untuk umum. Tidak kurang dari seribu judul buku tersimpan baik di sana, sebagian besar tentang pendidikan dan perkembangan anak. Beberapa di antaranya berbahasa Arab dan Inggris. Dua bahasa asing yang dikuasai dengan baik oleh ibuku.

 

Buku-buku asing yang sangat berkesan di hatiku antara lain “Ta’lim Mut’alim” karangan Syaikh Az-zarnujiy, “Ihya’ Ulumiddin,” karya agung dari Imam Al Gozali, “Teachers of Young Children” tulisan Robert D Hess dan Parens and Children yang merupakan hasil perenungan Lawrenc K.Frank. Semuanya tentang pendidikan dan perkembangan anak-anak, dua hal yang di kemudian hari kuanggap paling penting dalam kehidupan ini.

 

Kalau setelah menikah, aku ingin sekali segera punya momongan, terus terang saja tidak terlalu berkaitan dengan kelanggengan trah Senaprawira, melainkan lebih karena prinsip-prinsipku sendiri. Aku memang menyukai anak-anak sejak masih sangat belia, mungkin ada kaitannya dengan “lelaki berhati embun” julukan yang diberikan ibu untukku. Bagiku seorang anak adalah satu-satunya tanda keberhasilan hidup. Seseorang hanya bisa dinilai berhasil bila dia telah melahirkan dan mendidik anak-anaknya menjadi manusia-manusia yang lebih berkualitas dibandingkan dirinya sendiri.

 

Sebagai pewaris masa depan bangsa, anak-anak merupakan generasi penerus yang sangat membutuhkan perhatian tersendiri, dimana keluarga dan lingkungan sangat berpengaruh dalam perkembangan mereka. Pendidikan harus dirancang sedemikian rupa sehingga selaras dengan apa yang mereka butuhkan sesuai dengan dunia mereka sendiri. Dengan menerapkan secara benar bagaimana membantu anak-anak belajar menggunakan tubuh mereka, berpikir dan menyelesaikan masalah, mengembangkan sikap-sikap menjaga kesehatan dan bagaimana bergaul dengan rekan-rekannya merupakan langkah awal yang sangat penting untuk menjamin bahwa mereka kelak akan menjadi berguna dan menjadi warga Negara yang berbahagia.

 

Sedangkan menjadi perwira polisi adalah cita-cita keduaku, meskipun banyak orang beranggapan bahwa seorang lelaki tidak tegaan seperti diriku tidak cocok menjadi polisi. Tugas-tugas kepolisisan memang sangat berat, luar biasa, menantang sekaligus sangat menarik. Melindungi dan melayani masyarakat, itulah tugas utama polisi. Dua kata itu berarti memayungi yang kehujanan dan kepanasan, memberikan petunjuk kepada yang tidak tahu, memberi makan bagi yang kelaparan, memberi minum bagi yang kehausan, memberi pakaian bagi yang masih telanjang serta memberikqan rasa aman bagi siapa saja yang merasa terancam. Peramah, lembah manah dan sejuk harus menjadi sikap wajib seorang polisi, sehingga kehadirannya selalu membawa ketentraman dan ketertiban di tengah-tengah masyarakat.

 

Oleh karena itu, untuk menjadi opsir polisi yang baik, tidak hanya dibutuhkan tubuh yang kuat dan otak yang cerdas tetapi juga hati yang bersih, jujur dan ikhlas. Itulah polisi dalam pemikiranku. Jika Anda pernah bertemu polisi yang seram dan menakutkan, suka mengancam dan mengandalkan kekerasan untuk menyelesaikan masalah serta mempersulit masyarakat maka percayalah bahwa mereka bukan polisi sebenarnya. Mereka bukanlah polisi yang telah menyadari jati dirinya sebagai pelindung dan pengayom rakyat. Mereka adalah polisi imitasi.

 

Aku sendiri telah membuktikan bahwa dengan kejujuran dan kebersihan hati, aku berhasil menyelesaikan pendidikan perwira polisi dengan prestasi terbaik. Dalam menjalankan tugas sehari-hari sebagai seorang detektif aku selalu mengedepankan pendekatan kasih sayang, mendasari upaya pengungkapan kasus dengan menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi serta memanfaatkan sebesar-besarnya ilmu psikologi yang kupelajari secara otodidak. Alhamdulillah, selalu berhasil. Semua pimpinan yang pernah menjadi atasanku dan semua yang pernah menjadi anak buahku mengakui kecemerlangan dalam menapaki karir sebagai Bhayangkara Negara.

 

Namun adakah tempat yang lebih baik untuk menanamkan kebanggaan-kebanggaan itu selain kepada seorang anak kandung permata hati belahan jiwa? Pelepas lelah macam apakah yang lebih menghibur dari pada kekeh dan celoteh anak-anak yang bertumbuh kembang dalam rengkuhan kasih sayang pribadi? Tetapi mendapatkan seorang bayi ternyata bukan persoalan sepele.

 

Berdasarkan penelitian mutakhir, persentase terjadinya kehamilan pada seorang wanita selama satu periode menstruasinya hanyalah dua puluh sampai dengan dua puluh lima persen, jauh di bawah sapi yang mencapai delapan puluh persen lebih. Sehingga ada pakar di bidang ini yang menyatakan bahwa memperoleh kehamilan itu laksana bermain judi rollet Rusia, tidak bisa di pastikan. Memastikan kapan seorang wanita bisa mengandung adalah tidak mungkin. Dan itu terjadi pada istriku.

 

Setahun, lima tahun, tujuh tahun, berlalu. Berbagai tugas berat memberantas kejahatan telah kulaksanakan dengan baik. Namun istriku yang kebetulan juga anak tunggal itu, belum menampakkan tanda-tanda kehamilan. Secara medis aku dan istriku normal. Berpuluh dukun dan paranormal di seluruh pelosok tanah air sudah kami datangi. Aku dan istriku sudah berobat ke Singapura, Jepang bahkan Inggris dan Amerika.

 

Berbagai program untuk mendapatkan kehamilan seperti invitro fertilization, intra cyptoplasmic sperm injection, micro surgical epididymal sperm aspiration, dan terticular sperm extraction yang menghabiskan dana ratusan juta rupiah telah kami ikuti. Namun bayi kami belum menampakkan diri juga. Anda jangan mengira saya membiayainya dengan uang korupsi dan kolusi. Pantang bagiku menggunakan barang haram untuk kepentingan pribadi. Harta rama dan bapak mertua masih lebih dari cukup untuk menanggulangi semua usaha itu.

 

Banyak yang menyarankan untuk kawin lagi. Tapi aku sangat mencintai istriku yang lemah lembut dan cantik jelita itu. Aku sangat dekat dengan ibuku sehingga aku bisa merasakan bagaimana pahitnya di-madu. Aku tidak mau istriku mengalami hal sama selama hidupnya. Lebih dari itu aku tidak yakin apakah dengan kawin lagi bayi yang sangat kami dambakan itu akan hadir.

 

Rama mulai sakit-sakitan didera kekhawatiran akan punahnya trah Senaprawira. Tepat sepuluh tahun setelah perkawinanaku, rama meninggal. Enam bulan kemudian ibu menyusul Rama, kundur ke alam kelanggengan. Aku limbung dan mulai mempertanyakan kemaha-murahan Tuhan. Benarkah maha murah masih menjadi sifatNya ?! Kurang apakah aku ? Aku selalu manembah, menjalankan segala perintah dan selalu menjauhi laranganNya, mengasihi sesama dan selalu berusaha jujur sesuai sumpahku sebagai seorang prajurit. Tetapi kenapa permohonanku yang hanya satu itu tidak juga di kabulkanNya ?!

 

Sementara itu, narkoba mengepung negeri ini dari segala penjuru. Jika tidak segera ditangani secara sungguh-sungguh dan berkesinambungan, bahaya narkoba betul-betul akan menggulung masa depan Negara. Operasi sangat rahasia itu dilaksanakan berdasarkan analisis yang luar biasa akurat. Informasi intelijen telah dikumpulkan selama tidak kurang dari enam bulan. Transaksi itu akan melibatkan Bandar narkotika internasional yang telah menjadi target operasi Interpol. Markas besar mempercayakan komando di tanganku. Mengingat beratnya tugas yang kuemban, maka ku-pilih anggota satuanku hanya yang benar-benar terpercaya.

 

Dan waktu yang telah di tunggu-tunggu itu akhirnya tiba. Kami berangkat ke sasaran dengan hati berdebar tapi penuh kebanggaan karena kepercayaan yang telah di kalungkan dipundak kami. Pukul 23.00 aku dan sepuluh anak buahku telah menempati posisi masing-masing di lokasi.

 

Transaksi itu akan berlangsung tepat satu jam kedepan. 15 menit, 30 menit, 45 menit berlalu dengan sangat cepat. Satu jam, 1,5 jam terlampaui dan tidak terjadi apa-apa. Tidak secuilpun manusia yang datang ketempat itu. Aku mulai mengendus bau pengkhianatan. Ketika adzan subuh terdengar, aku menyimpulkan seseorang telah membocorkan operasi ini.

 

Kami kembali ke markas dengan hati sangat masgul. Rasanya sangat sulit menerima kenyataan ini karena kami telah menumpahkan segala kemampuan dan satu bulan sebelumnya kami telah melakukan latihan-latihan keras yang harus kami rahasiakan dari siapapun dengan simulasi yang sangat mirip dengan kondisi lapangan. Inilah pengalaman pertama, aku gagal total dalam memimpin sebuah operasi.

 

Namun kegagalan yang sangat pahit itu ternyata tidak ada apa-apanya dibanding dengan kejadian berikutnya. Peristiwa dahsyat itu sungguh diluar akal sehatku. Aku merasakan kiamat datang sebelum waktunya. Nafasku sepertinya nyaris terhenti, dunia berputar, aku merasa terperangkap dalam sumur pasir yang berpusar dan menyedot tubuhku ke dalam perut bumi. Mata kepalaku sendiri menyaksikan istriku bergumul bersama komandanku mendaki puncak-puncak kenikmatan duniawi di kamar pribadiku yang selama ini sangat kujaga kesuciannya.

 

Kulempar orang nomor satu di kantorku itu dengan sepucuk revolver dan aku tantang dia baku tembak di lapangan untuk menentukan siapakah sebenarnya yang lebih jantan di antara kami berdua. Rupanya aku hanya melihat seekor tikus cerurut, laki-laki yang pernah sangat kuhormati itu menyembah-nyembah di kak

 

Yang kusesalkan, aku masih lelaki berhati embun, atau mungkin aku memang seorang pengecut. Aku tidak menembak kepala lelaki itu. Aku malah menangis dan meratap.” Tuhan, apa maksudMu dengan semua cobaan ini ?! Apakah dosaku dan kesalahan nenek moyangku sehingga Engkau menghinakanku sedemikian rupa ?! Aku tidak kuat ya Tuhan, aku tidak mampu menanggungkan aib ini.” Seperti yang telah kuyakini selama ini bahwa segala persoalan harus diserahkan kepada Undang-undang yang berlaku maka akupun menyerahkan masalah ini kepada hukum.

 

Namun akhirnya kusadari bahwa terlalu sulit bagiku untuk tetap berhati embun. Ruang pengadilan itu telah membekukan embun di kalbuku. Aku menumpahkan tiga butir peluru. Satu untuk kepala hakim ketua, sebutir untuk komandanku dan satu lagi untuk kepala istriku yang sebenarnya masih sangat kucintai itu. Darah muncrat kemana-mana, namun aku sama sekali tidak merasa bersalah. Adakah yang lebih bijaksana selain meledakkan kepala-kepala itu ?!

 

Keputusan pengadilan telah menetapkan bahwa mereka tidak terbukti bersalah karena melakukan perbuatan itu secara suka sama suka. Kemudian gelap pekat, aku hanya ingin segera menyusul arwah rama dan ibu. Peduli setan dengan trah Senaprawira.

 

- Bumi Dalung Permai, akhir Juli 2002

- Dimuat di Bali Post 09-03-2003

 

0 Comments:

Posting Komentar