Acara casting sudah dimulai. Puluhan perempuan
muda datang untuk memperebutkan peran dalam sebuah film produksi Hollywood.
Bukan peran utama sih tapi peran pembantu. Meskipun demikian, peran itu tetap
penting karena bisa memuluskan jalan menuju popularitas internasional.
Film yang akan diproduksi, bukan film
kaleng-kaleng. Sebuah film drama romantis berlatar Amerika tahun 1960-an.
Judulnya: Brokeback Mountain. Semua karakter sudah ditemukan kecuali satu tokoh
wanita yang sekarang sedang diperebutkan.
Semua peserta duduk berjejer, menunggu giliran
dengan wajah tegang tapi penuh harap. Satu per satu, mereka dipanggil untuk
diwawancara oleh produser dan sutradara. Di luar ruangan, udara siang terasa
kering. Bau kertas, parfum, dan kopi bercampur jadi satu.
Ketika semua sudah selesai diinterview, Sang
Sutradara melemparkan pertanyaan terakhir yang ditujukan pada semua peserta,
“Siapa di antara kalian yang bisa menunggang kuda?”
Ruangan mendadak hening. Semua peserta saling
berpandangan satu sama lain. Gak ada yang mengangkat tangan. Sepertinya gak ada
satu pun yang mampu menunggang kuda. Sejenak suasana hening. Sang Sutradara
masih celingak-celinguk dengan paras putus harapan.
“Saya bisa!” Tiba-tiba salah seorang peserta
mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Semua mata berpaling ke arah suara tadi. Di
sana nampak seorang gadis remaja, berwajah imut, berdiri tegak dengan senyum
penuh percaya diri.
“Seriusan kamu bisa mengendarai kuda?" tanya
Sang Sutradara.
“Soal menunggang kuda, saya ahlinya.!” jawab yang
ditanya dengan yakin.
“Oh ya? Hebat! Okay, kamu mendapat peran itu,”
kata Sutradara dengan nada kagum.
Tepuk tangan meriah menyambut pilihan itu.
Keputusan telah dibuat. Gak ada debat. Peserta lain kecewa berat. Mereka
membubarkan diri membawa penyesalan yang sama; 'kenapa dulu gak pernah
kepikiran belajar menunggang kuda.' Penyesalan selalu datang belakangan.
Nah, ada satu momen penting yang gak diketahui
siapa pun. Gadis remaja yang mengaku mampu menunggang kuda itu, sebenarnya
bohong. Seumur hidup dia gak pernah menunggang kuda. Dia memilih berbohong
karena kesempatan itu terlalu bagus untuk dilewatkan.
Hidup itu pilihan. Dan setiap pilihan mempunyai
konsekuensi. Begitu sampai di mobil, hal pertama yang gadis itu lakukan adalah
mencari pelatih berkuda. “Saya harus belajar menunggang kuda,” katanya. Dalam
waktu teramat singkat, Si Gadis Imut belajar sekuat tenaga. Jatuh, memar,
lecet, tapi terus bangkit. Dia tahu, keberanian kecil yang dia tunjukkan saat
casting kemarin harus dibayar dengan kesungguhan hari ini. Luar biasa ya?
Bagaimana kerja otak di momen seperti itu?
Dalam neurosains, ada satu bagian di otak bernama amygdala,
yang bertugas memproses rasa takut. Setiap kali kita menghadapi hal baru dan
tak pasti, amygdala menyalakan alarm. Itu sebabnya, ketika sutradara menanyakan
soal berkuda, semuanya mingkem. “Awas. Berbahaya.” Begitu kata amygdala
memperingatkan.
Orang lebih memilih menunggu, mundur, atau
menunda. Bukan hanya karena tidak mampu, tapi karena otak mereka ingin tetap
aman. Namun di sisi lain, ada bagian otak bernama prefrontal cortex, pusat
logika, pengendalian diri, dan pengambilan keputusan. Ketika seseorang memilih
untuk maju meski takut, artinya bagian ini berhasil menenangkan amygdala. “Tenang,
kita bisa hadapi ini!” sahut prefrontal cortex.
Begitu kita berhasil melangkah, otak memberi kita
hadiah: dopamine, zat kimia yang memunculkan rasa puas dan percaya diri.
Setiap keberanian yang berhasil menembus rasa takut akan memperkuat jaringan
saraf itu, membuat kita lebih siap menghadapi ketidakpastian berikutnya. Jadi,
keberanian bukan sifat bawaan, tapi kemampuan yang bisa dilatih. Setiap kali
kita memilih melangkah ke arah yang menakutkan, otak kita belajar bahwa
ketakutan bukan tanda bahaya, tapi pintu menuju pertumbuhan.
Gadis itu mungkin tidak tau teori neurosains, tapi
dia tau satu hal: kesempatan tidak akan menunggu sampai kita benar-benar siap.
Kadang, kesiapan justru lahir setelah kita berani berkata “ya.” Kesempatan emas
tidak datang dua kali. Jangan disia-siakan. Mempersiapkan diri? Kapan saja itu
bisa dilakukan.
Beberapa bulan kemudian, film yang ia bintangi pun
resmi ditayangkan di seluruh dunia. Film Brokeback Mountain memenangkan
penghargaan besar dan membuka pintu karier yang mengubah hidup Sang Gadis
selamanya. Sebuah titik balik yang mengubah karakternya dari aktris remaja
menjadi aktris dewasa. Buat yang pernah menonton film itu, pasti tahu gadis
pembohong yang saya maksud adalah Anne Hathaway.
Hebat ya. Saat itu dia masih remaja, tapi sudah
mengerti satu hal: kesempatan tidak menunggu kesiapan. Anne Hathaway
mengajarkan kita sebuah rahasia sederhana namun kuat: Jangan menunggu kemampuan
untuk berani. Beranilah dulu, maka kemampuan akan datang menyusul. Kalo kita
berani, semua bisa dipelajari.
Sumber: FB Budiman Hakim

0 Comments:
Posting Komentar