“Yang bikin argumenmu lemah bukan karena kamu
salah, tapi karena kamu asal ngomong.”
Dalam studi dari Carnegie Mellon University,
ditemukan bahwa argumen yang mengikuti struktur logis lebih mudah diterima dan
diingat oleh audiens hingga 40 persen lebih lama dibanding opini biasa yang tak
terstruktur. Logika bukan hanya membuatmu terdengar pintar, tapi juga sulit
dipatahkan.
Seorang mahasiswa mencoba membantah kebijakan
kampus di forum diskusi. Argumennya emosional, penuh semangat. Tapi dalam waktu
dua menit, pembicara lain mematahkan logika dasarnya, dan seluruh ruangan
kehilangan perhatian. Ia tidak kalah karena idenya buruk, tapi karena struktur
argumennya rapuh.
Kita semua pernah mengalami hal ini. Punya
pendapat kuat, tapi tak tahu cara menyampaikannya dengan kokoh. Akhirnya, kita
jadi frustrasi atau malah terlihat tidak tahu apa-apa. Padahal, argumen yang
kuat itu bisa dipelajari. Argumen bukan cuma soal punya pendapat. Ia adalah
seni menyusun pikiran menjadi konstruksi yang tahan banting. Berikut tujuh
teknik agar pendapatmu tidak sekadar nyaring, tapi juga tahan uji.
1. Mulai dari klaim yang spesifik, bukan asumsi
umum
Stephen Toulmin mengingatkan bahwa argumen yang
baik harus punya klaim yang jelas dan bisa diuji. Misalnya, jangan bilang
“sistem pendidikan kita hancur” tanpa menjelaskan sisi mana, siapa yang
terdampak, dan apa indikatornya. Argumen kabur adalah makanan empuk untuk lawan
debat.
2. Lengkapi dengan data yang relevan, bukan
yang ramai
Rieke dan Sillars menekankan pentingnya grounds
atau dasar bukti. Jangan pakai data yang sedang viral tapi tidak nyambung.
Ambil kutipan dari laporan riset, jurnal akademik, atau hasil wawancara
kredibel. Data adalah tulang punggung argumen. Tanpa itu, kamu cuma nyerocos.
3. Sambungkan klaim dan data dengan penalaran
yang eksplisit
Ini yang paling sering dilupakan. Kadang kamu
punya argumen dan data, tapi tidak menjelaskan hubungan logisnya. Toulmin
menyebut ini sebagai warrant, jembatan yang menghubungkan data dengan
klaim. Contoh: “Karena anak-anak dari keluarga miskin cenderung putus sekolah,
maka sistem zonasi yang diskriminatif memperburuk ketimpangan pendidikan.”
Tanpa penalaran ini, orang bingung kamu mau ke mana.
4. Antisipasi sanggahan sebelum dilontarkan
lawan bicara
Argumen yang kuat bukan yang merasa selalu benar,
tapi yang siap menghadapi kritik. Tambahkan rebuttal dalam penyampaianmu.
Misalnya, “Meskipun ada yang bilang sistem ini adil karena semua orang dapat
kesempatan yang sama, data A menunjukkan bahwa akses awal tiap individu tidak
setara.” Ini bukan defensif, ini strategi bertahan.
5. Gunakan analogi yang logis, bukan cuma yang
lucu
Analogi bisa jadi alat ampuh untuk memperjelas
argumen. Tapi hati-hati, analogi yang tidak sebanding justru membuat logikamu
runtuh. Misalnya, membandingkan sistem pendidikan dengan kompetisi sepak bola
bisa masuk akal jika konteksnya relevan. Kalau cuma buat lucu, audiens akan
tertawa, tapi tidak percaya.
6. Hindari generalisasi tergesa-gesa
“Semua anak muda sekarang malas membaca.” Kalimat
seperti ini membuatmu terlihat dangkal. Gunakan frase seperti “sebagian besar”,
“dalam beberapa kasus”, atau “berdasarkan temuan ini” untuk membatasi klaim.
Menyusun batas adalah cara menjaga argumen tetap masuk akal.
7. Uji argumenmu dengan bertanya: ‘Apa yang
bisa melemahkan ini?’
Ini latihan mandiri yang sangat penting. Sebelum
kamu mengeluarkan argumen, uji dengan bertanya: kalau aku jadi orang yang
menentang pendapat ini, bagian mana yang paling lemah? Latihan ini membentuk
mentalitas intelektual yang rendah hati tapi siap tempur.
Argumen yang baik bukan yang membuat semua orang
setuju, tapi yang membuat orang berpikir dua kali sebelum membantah.
Kalau kamu ingin melatih cara berpikir dan
membangun argumen yang tak mudah dipatahkan, berlangganan sekarang di akun
@logikafilsuf. Di sana kamu akan temukan analisis, strategi berpikir, dan
teknik debat dari filsafat sampai retorika klasik.
Pernah punya argumen yang kamu banggakan tapi
langsung rontok di depan umum? Atau kamu pernah berhasil membungkam ruangan
dengan satu kalimat yang solid? Ceritakan pengalamannya di kolom komentar. Dan
kalau artikel ini bikin kamu makin percaya diri menyusun argumen, bagikan ke
temanmu yang hobi debat tapi sering lupa logika.
Sumber: https://www.facebook.com/photo?fbid=628216840300293&set=a.201366279652020

0 Comments:
Posting Komentar