Blog ini berisi tulisan orang lain. Sengaja saya kumpulkan disini agar bisa dibaca lagi di lain waktu, oleh saya dan oleh kita semua.
WHAT'S NEW?
Loading...

“GALERI KAPSUL” MENGHIDUPKAN MASA LALU



Saya sering melihat tayangan tentang masa lalu namun ragu apakah benar mengingat teknologi perekamannya jelas model sekarang. Ternyata hanya propertinya saja yang datang dari masa lalu, sisa-sisa benda masa lalu, yang sengaja dikoleksi untuk dinikmat hari ini. Pengumpulan benda-benda koleksi tersebut tidak kalah menariknya sebagaimana diunggah akun FB BBC News berikut ini.

 

Bukan sekedar pemanis konten, barang-barang lawas yang dipamerkan di Galeri Kapsul Waktu berulang kali membuat pengunjung sesenggukan, seperti karena melihat bedak yang biasa dipakai almarhum orang tua puluhan tahun silam. Bagaimana kisah upaya merawat memori masa lalu ini?

 

Sekilas rumah di Kelurahan Sungai Sapih, Kota Padang, Sumatra Barat, itu tampak selazimnya warung kelontong yang mudah dijumpai di daerah manapun di Indonesia. Ribuan produk keperluan sehari-hari berderet rapih di rumah berukuran kurang lebih 6X8 meter persegi itu. Mulai dari sampo, sabun, berbagai jenis mainan, iklan, koran, uang hingga komik dipajang di sana.


 

Namun, rumah tersebut bukanlah warung. Barang-barang yang dipajang juga bukan untuk digunakan karena semuanya sudah kadaluarsa, diproduksi pada era 1980-an, 1990-an, dan 2000-an. "Setiap barang yang ada di sini adalah kenangan masa lalu. Barang-barang ini menghidupkan kembali kenangan masa lampau bagi sebagian orang," kata Rivaldo Ferdian, pemilik Galeri Kapsul Waktu.

 

Rivaldo mulai mengumpulkan berbagai barang tersebut sejak beberapa tahun lalu. Dia pula yang mendesain salah satu ruangan di rumah itu seperti warung kelontong pada era 1980-an. Ini memang sengaja dibuat untuk membuat konten dan barang-barang di sini semuanya masih ada isinya. Kebanyakan barang yang ada di sini belum pernah dibuka sebelumnya," tuturnya.


 

Rivaldo menceritakan, Galeri Kapsul Waktu berawal dari hobinya mengoleksi barang-barang jaman dulu—atau lazim disebut jadul—pada pandemi Covid-19 lalu. "Awalnya saya hanya mengoleksi iklan-iklan jadul yang diterbitkan di berbagai majalah yang saya dapatkan dari toko buku lama. Karena penasaran dengan barang-barang itu, saya mencoba mencarinya satu per satu," katanya.

 

Rivaldo memulai langkahnya dengan mengunjungi berbagai warung-warung kelontong di Kota Padang. Dia menyasar warung-warung yang terletak di daerah pinggiran yang diperkirakan masih menyimpan barang-barang masa lalu. "Saya masih ingat saat saya melihat salah satu warung yang sudah lama tutup di daerah Solok milik seorang bapak-bapak. Itulah pertama kali saya mendapatkan beberapa barang-barang ini dengan jumlah yang cukup banyak," lanjutnya.

 

Hingga 2022, ia mendapatkan sebuah pesan dari salah satu pengikutnya di Kalimantan yang pernah memiliki warung kelontong di daerah tersebut. "Orang itu menyatakan siap untuk mengirim semua barangnya untuk saya dan saya tidak perlu membayar sepeserpun. Bahkan dia juga menanggung ongkos kirim yang seingat saya hampir sekitar Rp1 jutaan," katanya.

 

Saat melihat barang-barang yang dikirimkan itu, Rivaldo sangat terkejut. Karena beberapa barang yang dikirim dalam kardus itu adalah barang yang memang sedang ia cari. Bahkan, ada beberapa barang yang sudah berumur ratusan tahun. "Dalam kiriman itu bahkan ada salah satu bedak yang dijual pada tahun 1890-an. Sementara barang yang lain ada yang tahun 1980-an dan 1990-an juga," lanjutnya.

 


Galeri Kapsul Waktu, menurut Rivaldo, tidak hanya berdiri untuk kepuasan dirinya sendiri. Tempat itu, sambungnya, terbuka bagi siapa saja yang ingin melihat dan mengenang masa lalu melalui berbagai barang. "Siapa saja yang ingin ke sini boleh saja. Tidak hanya yang di Sumatra Barat. Dari daerah lain juga banyak yang berkunjung ke sini untuk melihat koleksi di sini," katanya.

 

Ia menceritakan, pada 2024 lalu, ada pasangan yang diperkirakan berumur 40-an tahun datang ke galeri tersebut. Rivaldo mempersilakan mereka untuk masuk dan melihat-lihat ribuan koleksinya. "Hanya beberapa menit saja, pengunjung perempuan itu langsung menangis tersedu-sedu saat melihat salah satu produk yang ada di galeri ini. Lalu, pengunjung pria yang merupakan suaminya mencoba menenangkannya," katanya.

 

Setelah ditanya oleh Rivaldo, ternyata produk bedak yang ada di galeri tersebut merupakan produk yang sering digunakan oleh orang tua sang perempuan. Produk itu membawa kenangan masa lalu saat sang ibu masih hidup.

 

Sampai disini, jelaslah bahwa benda-benda yang sepertinya tidak lagi bermanfaat, memenuhi rumah, ternyata oleh sebagian orang justru dicari. Bukan untuk diambil manfaatnya secara langsung karena boleh jadi sudah kedaluwarsa. Namun untuk pembuatan konten dan membangkitkan memori masyarakat. Buktinya ada yang terharu dan menangis melihat bedak yang dulu biasa dipakai ibunya.

 

0 Comments:

Posting Komentar