Anak mantu yang ayu itu duduk dengan gugup di
hadapan. Aku tahu gelisah hatinya, besok akan lebaran tapi Daniel anak keduaku
mungkin belum begitu berlimpah rezeki seperti saudaranya yang lain. Aku
mengerti betul gundah hatinya.
Tak ada anak dan menantu yang tak ingin
membahagiakan orangtua maupun mertuanya. Sebaliknya, tak ada seorang pun anak
dan menantu yang tak ingin dipandang hebat oleh orangtua atau mertuanya. Aku
ingin sekali menangis saat Ina mengulurkan tangannya sungkan dengan amplop
lusuh yang tipis.
"Mama maaf, bang Daniel baru punya rezeki
segini. Ini untuk mama ya maa," bisiknya nyaris tak terdengar.
Aku menahan air mata yang beranai di pelupuk
netra.
"Kalian semua sudah beli baju lebaran Na?"
tanyaku mengalihkan suasana agar perasaan pilu ini tak begitu menguasai diri.
Ina mengangguk pelan, dan aku tahu dia tengah
berbohong.
"Tenang ma, Alhamdulillah anak-anak sudah
beli baju lebaran semua, bahkan Aji beli baju koko kembaran sama bang Daniel.
Ratih juga udah," jelas Ina dengan mata berbinar.
"Dan kamu?" tanyaku yang merubah
wajahnya menjadi kikuk.
"Ina masih punya gamis yang layak dipakai
ma." jawabnya datar.
Ah Ina mantuku tersayang, maafkan lah karena
rezeki anakku yang pas-pasan kau terpaksa hidup menderita begini. Jiwamu tulus
sekali mampu menutupi kefakiran suamimu, aku tau kau sangat kekurangan tapi
punya harga diri untuk tidak meminta-minta pada orangtua dan saudaramu. Bahkan
tak segan kau dan Daniel menolak saat saudara kalian ingin membantu. Betapa
sabar kalian nak.
"Tapi besok di rumah mama ada acara lho Na,
kita seragaman ya, ini mama bawakan satu set gamis untukmu, Daniel dan
anak-anak," aku menyodorkan shopping bag yang aku khususkan untuk mereka.
Ina terbelalak, matanya membulat bahagia, "Masya
Allah mama banyak banget, kita sekeluarga dapet ya ma? Abang dan kakak-kakak
yang lain juga kebagian kan ma?"
Aku mengangguk pelan. Bahkan saat rezeki
menghampirimu kau masih memikirkan orang lain. Tentu saja hanya keluarga kalian
yang aku beri. Anak-anak yang lain sudah sangat mapan tak perlu ku beripun
mereka sudah bisa membeli sendiri.
Ku masukan ke dalam tas amplop lusuh pemberiannya
tadi demi menjaga harga dirinya. "Nak, ini THR buat Aji dan Ratih yaa.
Kamu aja yang pegang, Daniel tidak perlu tahu, bila nanti mau dipakai untuk
kebutuhan mereka ya pakai aja jangan sungkan, nanti masak yang enak ya, mama
mau besok kamu bawa makanan kerumah mama. Kita makan bareng-bareng."
Kusodorkan segepok uang lima juta rupiah yang
terbungkus amplop coklat milik salah satu bank. Kulihat Ina ingin menolaknya,
tapi saat aku menjelaskan itu bukan pemberian untuknya melainkan THR bagi anak-anaknya,
barulah dia mau menerima. Kupandangi wajahnya, ada kebahagiaan disana, meski
dengan pandai dia tutupi. Alhamdulillah.
"Mama pamit ya na, jangan lupa besok pagi
kerumah setelah sholat ied!" seruku sembari melangkah keluar.
Daniel dan dua anaknya sedang tidak ada di rumah.
Mereka tengah berada di bengkel kecil pinggiran kota milik mereka. Karenanya
aku datang menemui Ina. Jika tidak mana aku berani. Daniel betul-betul menjaga
diri untuk tidak dikasihani olehku, apalagi oleh saudara-saudaranya yang lain.
Tapi aku tetap berpikir mau bagaimanapun, mereka
bertiga semua anakku, tak ada satupun yang aku bedakan, mereka lahir dari rahim
yang sama, minum susu dari sumber yang sama, masing-masing telah memberikan
kebahagiaan pada ku di masanya, meski rezeki mereka saat dewasa tak pernah
sama, tapi mereka tetap anak-anakku. Tak ada yang bisa merubah pandanganku pada
mereka. Harta maupun tahta.
Setelah sholat ied terlaksana satu persatu
anak-anakku berdatangan. Roni anak tertuaku yang bekerja sebagai pimpinan di
Perusahaan tambang terbesar datang dengan robiconnya dan parkir di halaman
depan. Istrinya Sinta turun disusul ketiga buah hatinya yang beranjak remaja
dengan membawa beberapa hampers dan parcel yang dibungkus rapi.
Mereka menemuiku. Memberikan hadiah yang begitu
banyak, aku menerimanya dengan senyuman terbaik, "Makasih sayang-sayang
nenek. Ini siapa yang pilihan mukena cantik ini. Deby yaaa?"
Mereka tertawa sembari menyusun barang-barang
bawaan mereka di kamarku.
Tak lama Andara datang dengan Lexusnya. Terparkir
mewah didepan rumah. Andara pemilik cafe besar di sudut kota Bandung, Raline
Istrinya cantik bukan main, tinggi semampai bak model, tapi itu tak membuatnya
angkuh, dia begitu menghargai orang disekitarnya. Mereka masuk kerumah dengan
menggandeng sikecil cucuku yang baru bisa berjalan, ah aku sumringah
melihatnya, betapa kebahagiaan ini adalah perjuangan kami, aku dan suami.
Satu lagi pikirku. Aku menunggu keluarga Daniel,
kemana mereka?
"Mama nunggu Daniel?" tanya Roni
penasaran setelah melihatku bolak balik keteras rumah.
"Iya nih, Daniel kok belum datang, atau ada
apa-apa ya dijalan? Coba kamu video call!"
Sigap Roni menghubungi Daniel, karena dia tahu
acara sungkeman ini tidak akan dimulai jika salah satu keluarga belum datang.
"Woi bro, dimana lu? Waduh keburu habis nih
opor kami embat duluan!" teriak Roni menggoda adiknya. Yang disambut suara
tawa diujung sana. "Gimana bang? Dah dimana bang Daniel?"
Andara menghampiri kami di teras.
"Udah dijalan, biasa lah kan anak istrinya
pake gamis jadi dia juga gak bisa ngebut.takut selip di jari-jari roda motornya,"
Roni menjelaskan. Andara terlihat sebal.
"Bilang nanti Anda yang bayar pajaknya,
sekalian Anda kasih uang bensin tiap bulan yang penting ga susah lah mereka
itu!" sungutnya sekali lagi, disambut tawa Roni dan aku.
"Macam tak tahu abangmu aja Nda!" goda
Roni.
"Sudah-sudah, masuk yuk, bentar lagi mereka
sampe, Roni, Anda, bantu mama, itu makanan di meja kita siapin dulu, biar nanti
enak kita sekalian makan pas Daniel sudah sampe, mereka pasti lelah dan haus di
jalan yang terik ini."
Aku menggandeng kedua anakku masuk ke dalam rumah
lalu kami bertiga sibuk menyiapkan. hidangan yang sebagian mereka bawa dari
rumah. Sementara Sinta dan Raline bercengkrama di ruang tamu, bercanda bersama
anak-anak mereka.
Kalo dirumah ini aku tak pernah meminta mantuku
berkerja, jadi anak-anak lelakiku lah yang sibuk membantu. Pernah Andara protes
saat aku memintanya menyapu sementara istrinya tengah di kamar memainkan hape
sembari menyusui bayinya.
"Raline udah capek kerja di rumahmu kan? Masa
disini dia mau kau bikin lelah juga, biarlah dia istirahat sebentar. Nyapu tak
akan menghilangkan wibawamu anak gagah," hiburku sembari menoel wajah
tampannya. Sejak suamiku pergi menghadapNya. Mereka bertiga bahu membahu
menjagaku, seminggu sekali bergantian main kerumah.
Tin ... Tin ... Motor Daniel memasuki garasi rumah
yang terhubung dengan dengan pintu dapur. Anda berlari membuka pintu dapur dan
menyambut keluarga kecil abangnya itu dengan hangat, "Ma, busyet
rantangnya penuh nih maa!" teriak Anda sambil membawa rantang berisi
masakan Ina.
Ina tersipu saat isi rantang itu di tuangkan Anda
kedalam mangkok keramik terbaik yang kami miliki. Bersanding dengan makanan
mahal lain yang dibawa saudaranya.
"Kak, nih di rumah kakak masih ada gak sambel
pete, Anda mau, nanti kita kerumah kakak ya!"
Anda berseru pada Ina tanpa segan.
"Masih banyak dong boleh lah kalo mau mampir,"
jawab Daniel yang sudah duduk di samping Anda.
"Hayuk kalian kumpul di ruang keluarga, kita
sungkeman, mama bentar lagi nyusul," titahku.
Mereka bergegas jalan menuju ruang keluarga
sementara aku masih sibuk merapikan sendok dan garpu yang baru saja kuseka.
"Maa, terimakasih ya," suara Daniel
mengagetkanku.
"Makasih apa nih?" tanyaku heran.
"Terimakasih untuk tetap menyayangi Daniel,
istri dan anak-anak, meskipun kami tak memiliki harta, tak bisa memberi yang
terbaik untuk mama seperti abang dan adik beri. Yang bisa kami lakukan hanya
terus mendoakan mama agar mama sehat dan usia mama barokah. Maafkan kami ya ma,"
suara Daniel bergetar.
Ya Allah. Aku tahu rasa hatinya. Sedih dan
deritanya.dia anakku meski dia tak kaya raya. Meski dia tak memiliki jabatan,
meski dia fakir harta, tapi dia lah yang paling hebat, air matanya membumi
namun doanya melangit.
"Doa yang kau panjatkan adalah harta mama
kelak nak, saudaramu memberi mama harta itu karena mereka berlebih. Jika kau
diberi Allah berlimpah rezeki kau pun akan melakukan hal yang sam. Jangan
bebani hatimu untuk kebahagiaan mama ya sayang, mama sudah bahagia melihatmu
sehat, berdikari, gigih, selalu menjaga ibadah istri dan anak-anakmu, tetap
bersabar dengan keadaan. Kalian lah yang terhebat sayang."
Aku merangkul tubuh kurus Danielku, anak
kesayanganku. Laki-laki panutan keluarga. Imam yang disegani di rumah ini. Harta
dan Tahta bukan hal penting. Tapi siapa yang lebih dekat dengan Allah lah yang
akan membawanya hidup bermartabat jauh dari kemudhoratan.
Daniel mengusap air mataku, tangannya terasa kasar
pertanda dia sudah bekerja sangat keras untuk kehidupan mereka, dan Aku
menghargai itu. Perjuangannya. Semangatnya. Dan harga dirinya.
Tenanglah nak, mama akan selalu ada untuk kalian.
Selama mama hidup, apapun akan mama beri. Orang tua yang membedakan kasih
sayang pada anaknya itu mungkin lupa, jika anak yang disisihkan itu mungkin
juga jawaban atas doa-doa yang Allah beri untuk menyelamatkan, Baik di dunia
maupun akhirat.
Wahai orang tua, jika rezeki anakmu belum bisa
membahagiakanmu, sementara dia sudah setengah mati berusaha, maka ulurkan
tanganmu, hargai mereka setidaknya dengan tidak bermuka masam pun cukup. Semoga
kita termasuk golongan orangtua dan mertua kesayangan anak-anak dan menantu.
Salam santun.
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
Sumber : FB Rahma Fitri

0 Comments:
Posting Komentar