Dalam buku sejarah banyak ditulis Indonesia dijajah Belanda hingga 350 tahun, yaitu sejak kedatangan Cornelis de Houtman de Houtman pada tahun 1596. Bahkan lebih panjang lagi jika dihitung dari kedatangan bangsa Portugis di Malaka pada tahunn1511.
Mengapa penjajahan tersebut bisa berlangsung ratusan tahun? Apakah penjajah itu begitu kuat dan hebat? Apakah kita begitu lemah sehingga mudah diperdaya?
Salah satu faktor lamanya penjajahan itu karena banyaknya pengkhianat di kalangan bangsa kita. Jumlah penjajah asing itu sedikit dan yang lebih banyak adalah bangsa kita yang membantu penjajah menjajah bangsanya sendiri.
Orang2 inilah yang dikenal dengan sebutan Londo Ireng (Belanda berkulit hitam). Mereka datang dari semua kalangan, dari rakyat jelata hingga keluarga kraton.
Londo ireng ini bahkan berlaku sebagai mata-mata sehingga perjuangan mengusir penjajahan mudah dipatahkan. Mereka juga mendapat keuntungan finansial dari upaya membantu penjajah.
Bahkan mereka merasa terganggu dengan adanya upaya melepaskan diri dari penjajahan. Seringnya terjadi pertempuran antara penjajah dengan pejuang kemerdekaan dirasa mengganggu keseharian mereka berdagang, bertani dsb.
Kisah-kisah seperti ini dialami juga oleh bangsa lain seperti pada tulisan berikut.
: : :
Ketika Che Guevara ditangkap di tempat persembunyiannya setelah dilaporkan oleh seorang gembala domba, seseorang bertanya kepada si gembala: “Mengapa kau melaporkan orang yang menghabiskan hidupnya membela kalian dan hak-hak kalian?” Ia menjawab: “Perangnya dengan musuh membuat dombaku ketakutan.”
Begitu pula di Mesir, setelah perlawanan hebat yang dipimpin oleh Muhammad Karim melawan pasukan Prancis di bawah Napoleon, Karim akhirnya ditangkap dan dijatuhi hukuman mati. Namun Napoleon memanggilnya dan berkata: “Aku menyesal harus mengeksekusi seorang pemberani yang membela negerinya. Aku tidak ingin sejarah mencatat bahwa aku membunuh pahlawan.”
Napoleon lalu menawarkan pengampunan dengan syarat: membayar sepuluh ribu keping emas sebagai ganti rugi atas tentara Prancis yang tewas. Muhammad Karim menjawab: “Aku tidak punya uang sebanyak itu, tapi aku punya piutang pada para pedagang lebih dari seratus ribu keping emas.”
Napoleon memberi waktu baginya untuk menagih. Karim pun pergi ke pasar, dirantai dan dijaga tentara penjajah, berharap rakyatnya akan menolongnya. Namun tidak satu pun pedagang membantu — mereka justru menuduhnya sebagai penyebab kehancuran Alexandria dan kemunduran ekonomi.
Ia kembali kepada Napoleon dengan hati hancur. Napoleon berkata: “Aku tak punya pilihan selain mengeksekusimu — bukan karena kau melawan kami, tapi karena kau mengorbankan hidupmu demi orang-orang pengecut yang lebih sibuk dengan dagangannya daripada kebebasan negerinya.”
Muhammad Rasyid Ridha kemudian berkata: “Pemberontak demi masyarakat yang bodoh seperti orang yang membakar dirinya untuk menerangi jalan bagi orang buta.”
Benar, jangan berjuang demi mereka yang pengecut.
Seperti kita sekarang — kita meninggalkan pemimpin yang adil, menusuk mereka yang menegakkan kebenaran, dan menggantinya dengan penguasa yang tidak takut Allah, tidak adil, dan tunduk di hadapan musuh yang membunuh saudara-saudara kita serta merampas tanah kita.
Kita abaikan pejuang yang memperbaiki dan menolak penjajahan, tapi memuja mereka yang berkompromi dan menjual kehormatan bangsa.
Jika kau selesai membaca, bersalawatlah untuk Nabi Muhammad ﷺ.
Sumber: Zico Pratama Putra, FB A. Jajang W. Mahri
0 Comments:
Posting Komentar