Blog ini berisi tulisan orang lain. Sengaja saya kumpulkan disini agar bisa dibaca lagi di lain waktu, oleh saya dan oleh kita semua.
WHAT'S NEW?
Loading...

MENJAGA MAHLIGAI RUMAH TANGGA



Melihat banyaknya berita berseliweran, why on earth makin banyak orang selingkuh hari ini? Bukan cuma di drama Korea, bukan cuma di viral content, namun di kehidupan nyata. Rumah tangga rapuh, kepercayaan hancur, good people jadi sinis, dan anak-anak ikut remuk karena orang dewasa tak bisa menjaga janji yang mereka ucapkan sendiri.

 

Kalau ditarik garis, fenomena perselingkuhan modern itu bukan sekadar "kurang cinta". Too shallow to say that. Persoalannya jauh lebih kompleks.

 

Pertama, era overstimulation.

Kita hidup di zaman di mana manusia bisa "tergoda" tanpa harus beranjak dari kasur. Tinggal scroll, swipe, click, human desires jadi on demand. Setiap wajah tampil dengan filter terbaiknya, setiap perempuan dan laki-laki tampil dalam versi yang paling ideal, paling tidak autentik. FOMO berbaur dengan insecurity, lalu lahirlah fantasi "kok pasangan orang lebih menarik dari pasangan sendiri?"

 

Padahal, pasangan sendiri yang tiap hari menemani kita itu sedang jadi manusia nyata. Tanpa filter. Dengan bau keringat. Dengan beban hidup. Dengan kerecehan sehari-hari. Tapi real. Ironisnya, manusia modern lebih addicted pada yang palsu, karena yang real itu… berat.

 

Kedua, budaya self-centered.

Psikologi modern mengajarkan, "Follow your feelings", "You deserve to be happy." Sounds beautiful, namun itu racun jika tak dibingkai iman. Soalnya feelings itu fluktuatif. Sementara pernikahan itu ketetapan. Hubungan halal butuh commitment, bukan sekadar "aku lagi mood atau tidak."

 

Ketiga, ketidakmatangan emosi.

Banyak orang menikah tanpa menyadari bahwa membawa luka lama ke dalam rumah tangga akan selalu mencari tempat untuk meletus. Ada yang mencari validasi di luar karena tak dapat di rumah, ada yang merasa "berhak" dicintai lebih baik, ada yang masih haus perhatian karena masa kecilnya selalu dipinggirkan.

 

Keempat, ini yang sering diabaikan: tatanan ekonomi hari ini melemahkan banyak jiwa.

Manusia bekerja bukan untuk hidup, namun hidup untuk bekerja. Uang habis untuk cicilan. Cicilan dari utang. Utang dari sistem ribawi yang secara spiritual membuat hati kering dan gelisah. Dan hati yang gelisah itu mudah tergoda. Sebab orang yang restless tidak sedang mencari cinta, ia sedang mencari pelarian.

 

Sering kali, perselingkuhan bukan tentang orang ketiga. Melainkan tentang jiwa pertama yang lama tak disentuh cahaya. Dari perspektif Islamic Worldview, akar masalahnya kembali pada satu hal besar: manusia lupa bahwa pernikahan adalah amanah, bukan panggung validasi diri.

 

Dalam worldview Islam, cinta itu bukan tempat membuang resah. Cinta adalah ibadah. Dan ibadah itu ada batas, aturan, adab. Allah tidak membiarkan manusia berjalan sesuka hati lalu berharap harmoni turun dengan sendirinya. Selingkuh mudah terjadi ketika jiwa tercerabut dari akarnya. Ketika hati sudah tidak disuapi dzikir. Ketika rumah tidak dijaga dari hal-hal haram. Ketika gawai menjadi pintu ke nafsu tanpa pagar.

 

Ketika harta yang masuk ke rumah datang dari pintu riba, yang Nabi sendiri sudah memperingatkan tentang kehancuran berkahnya. Harta riba bukan sekadar dosa. Ia mematikan sensitivitas hati. Membuat manusia sulit bersyukur, sulit merasa cukup, dan mudah mencari kesenangan instan. Dan itu, pada akhirnya, melahirkan kehidupan yang tidak stabil termasuk dalam perasaan.

 

Kadang kita lupa bahwa iman itu bukan hanya di masjid, tapi di ranjang suami istri. Dalam tatapan yang jujur. Dalam kesetiaan yang terus dirawat. Dalam pengendalian diri ketika godaan lewat. Dalam doa yang bisikannya lirih, "Ya Allah jaga pandanganku, jaga hatiku, dan stabilkan rumah tanggaku."

 

Satu-satunya jalan kembali adalah kembali membenahi worldview, memperbaiki hubungan dengan Allah, dan membersihkan rumah dari hal-hal yang mengundang kegelisahan… termasuk harta yang haram. Karena rumah yang dibangun dari yang halal, dijaga oleh adab, dan dinaungi iman insyaAllah akan lebih kuat menahan badai apa pun.

 

Sumber : FB Rahmatul Husni

0 Comments:

Posting Komentar