By:
Yuswohady
Berikut ini
adalah 30 prediksi saya mengenai perubahan perilaku konsumen di kenormalan baru
(New Normal) selama dan setelah COVID-19 berlalu.
1. The Fall
of Mobility, The Rise of Stay @ Home
Wabah
praktis menghentikan mobilitas dan memaksa orang untuk berdiam diri di rumah,
“the death of mobility“. Krisis COVID-19 membawa manusia seperti kembali ke
zaman purba dimana hidupnya hanya di gua, yaitu rumah. “Welcome stay @ home
economy.”
2.
Online-Shopping Widening+Deepening: From Wants to Needs
Pembelian
online (online shopping) mulai bergeser dari produk yang sifatnya keinginan
(wants) ke produk yang sifatnya adalah kebutuhan (needs). Belanja online
konsumen melebar (widening) dari barang-barang non-esensial ke esensial (daily
needs). Dan mendalam (deepening) dimana volume pembeliannya makin besar.
3. Food
Delivery: From “Indulgence” to “Utility”
Konsumen
menghindari eating out dan beralih ke layanan delivery. Selama ini konsumen
memanfaatkan layanan delivery untuk jenis makanan “indulgence” yaitu untuk
pleasure dan enjoyment (seperti: boba tea, pizza, burger, atau ayam geprek)
akan bergeser ke “utility” untuk kebutuhan rutin sehari-hari. Dari pemesanan
sesekali (occasional) ke pemesanan berulang (habitual/routine).
4. The
Comeback of Home Cooking
Memiliki
waktu cukup luang di rumah selama pandemi memberikan kesempatan bagi milenial
mengasah keahlian baru yaitu masak. Dalam Millennials Kill Everything (2019)
saya mengatakan milenial “membunuh” home cooking karena emak-emak milenial
semakin kehilangan kemampuan memasak. Namun rupanya COVID-19 “menghidupkannya”
kembali.
5. Frozen
Food: Convenience Solution
Emak-emak
milenial sudah terlanjur tidak piawai memasak. Walaupun stay @ home menjadi
momentum comeback-nya kebiasaan memasak, namun gaya memasak milenial berbeda
dengan generasi sebelumnya. Mereka lebih suka memasak yang simple dan
convenient. Maka frozen food dan kemasan ready to cook akan menjadi pilihan.
6. Going
Omni
Dengan
matangnya online shopping akibat COVID-19, maka brand-brand
besar-menengah-kecil mulai hadir dengan platform omni channel-nya sendiri baik
via website atau e-commerce dan tentu physical channels. Mereka tak bisa lagi
cuma mengandalkan marketplace besar yang sudah ada. Ingat, customer data is the
new gold.
7.
Subscription Model Matters
COVID-19
memaksa konsumen membeli dan mengonsumsi secara serba online: Belanja grocery,
menikmati film/musik, membeli makanan, bekerja dan belajar, bermain games,
bahkan berolahraga dan yoga pun melalui live class secara online. Tak hanya,
belanja online itu dilakukan secara rutin tiap hari atau berkala tiap
minggunya. Karena kebutuhannya rutin dan terus menerus, model pembelian
berlangganan akan lebih cocok dan efisien. Subscription model will matter.
8. TV
Strikes Back
Dalam buku
Milenial Kills Everything (2019) kami mengatakan bahwa milenial telah membunuh
televisi. Tapi, COVID-19 telah menghidupkannya kembali, khusunya smart TV. TV
memiliki keunggulan dasar yang tak mungkin dimiliki smartphone yaitu layar
besar yang lebih ramah dilihat. Karena itu memasuki era “the death of mobility”
akibat social distancing, TV menemukan momentumnya kembali.
9. DIY
& Self-Care @ Home
Ketika
konsumen sudah terbiasa dengan stay @ home maka mereka mulai mencoba berbagai
hal baru yang menyenangkan. Salah satunya melakukan self-care atau peremajaan
diri seperti facial, meni-pedi, spa. Maka tren do it yourself (DIY) ini dapat
menjadi kenormalan baru dan pembelian produk-produk self-care secara otomatis
mengalami kenaikan.
10.
Zoomable Workplace @ Home
Work from
Home memunculkan tren baru “zoomable workplace“ di rumah. Kalau sebelumnya
populer istilah “instagramable” maka kini ada istilah tempat kerja di rumah
yang “zoomable“. Tren ini dipicu oleh popularitas aplikasi Zoom untuk meeting
virtual. Mendekorasi ruang kerja yang eye-catching sebagai background meeting.
IKEA atau Informa bakal makin ramai pembeli. Tanpa disadari hal ini telah
menjadi kebutuhan self-esteem.
11.
“Work-Live-Play” Balance: Well-Being Revolution
Ketika work
from home (WFH) dan flexible working hour (FWH) menjadi kenormalan baru, maka
batas waktu antara bekerja (working), mengurus keluarga dan menjalankan
parenting ke anak (living), dan menikmati leisure time (playing) menjadi kian
kabur. Karena karyawan mengatur waktunya sendiri, maka mereka bisa mengatur
keseimbangan working-living-playing dengan lebih baik. Hal ini akan
meningkatkan kualitas dan kebahagiaan hidup (well-being).
12. The
Century of Self Distancing
Begitu wabah
COVID-19 berlalu, tak serta-merta orang berinteraksi fisik seperti sediakala.
Bayang-bayang kematian akibat virus akan terus menghantui. Self-distancing akan
menjadi kebiasaan permanen. Memakai masker, mencuci tangan setiap saat, menjaga
jarak fisik, menghindari kerumunan akan menjadi kenormalan baru. Akankah
cipika-cipiki atau jabat-tangan punah dari muka bumi?
13.
Contact-Free Lifestyle
Self
distancing yang permanen akan melahirkan gaya hidup baru yaitu: “contact-free
lifestyle“. Belanja dilakukan secara online untuk menghindari paparan virus.
Menerima barang dari layanan antar cukup di depan pintu tanpa kontak fisik.
Menghindari kerumunan seperti nonton konser musik atau event olahraga yang
syarat kontak fisik. Menghindari olahraga yang “contact-intensive” seperti
gulat, tinju, karate, bahkan sepakbola. Jarak antar kursi di pesawat atau
bioskop akan lebih lebar.
14.
Low-Trust Society
Krisis
Covid-19 juga turut membuat kecurigaan antar warga meningkat di masyarakat.
Beberapa kasus penolakan jenazah positif COVID-19; pengusiran tenaga kesehatan
karena takut tertular; atau penolakan pemudik oleh masyarakat di kampung saat
lebaran, menciptakan kondisi yang saya sebut “low-trust society“. Social
distrust di antara anggota masyarakat akan semakin tinggi.
15.
Constantly-Fear Customers
Di tengah
krisis dan ketidakpastian. Orang mengalami kekacauan mental healthiness
sehingga menjalani hari-hari dalam ketakutan. Takut akan krisis ekonomi, takut
kehilangan pekerjaan, takut usaha bangkrut, takut tak mampu bayar hutang bank,
takut diri dan keluarga terpapar virus, dan puncaknya takut terenggut nyawa.
16. Jamu Is
the New Espresso
Jamu menjadi
minuman yang paling banyak dicari saat ini. Ketika para ahli mengatakan bahwa
mpon-mpon yang merupakan bahan dasar minuman jamu dapat menangkal virus
COVID-19, jamu langsung laris manis di pasaran. Wabah COVID-19 menjadikan jamu
sebagai lifestyle. Jamu is the new espresso.
17. Halal
(Thoyyiban) Becomes Mainstream
Kita tidak
tak akan pernah lupa dengan kota Wuhan terutama pasarnya yang menjadi awal mula
penyebaran virus. Khususnya kaum muslim, bayangan muram pasar Wuhan adalah
wujud dari penyiapan dan pengolahan makanan yang tidak mengikuti
prinsip-prinsip halal dan thoyyiban. Maka COVID-19 pun membawa hikmah bagi kaum
muslim, yaitu meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya halal dan thoyyiban.
18.
Paylater Solution
Di tengah
kecemasan dan ketidakpastian akibat COVID-19, sebisa mungkin konsumen membatasi
atau menunda pengeluaran yang bersifat cash. In time of crisis cash is king.
Maka layanan paylater yang diberikan oleh bank, perusahaan fintech, dan
platform ecommerce seperti GoPay, OVO, atau Tokopedia menjadi solusi bagi konsumen
untuk berbagai transaksi.
19. The
Future of Traveling
Bahkan
ketika ancaman virus terus mengintai, kita tetap akan berlibur tapi dalam
situasi dan kondisi yang bisa dikontrol dan tak terpapar virus. Travellers kian
sadar melakukan self social distancing. Karena itu staycation dan wellness tour
akan menjadi pilihan. Travelling kian menjadi aktivitas individual bukan lagi
grup. Niche tourism lebih berkembang daripada mass tourism. Dan virtual tourism
dengan teknologi VR (virtual reality) akan berkembang pesat.
20. Virtual
Experience Is the Nex Big Thing
Konser
musik, event olahraga, hingga konferensi/pameran dibatalkan di seluruh dunia.
Sebagai gantinya: virtual concert, virtual sport, virtual conference/seminar,
virtual exhibition. Ketika self distancing bakal berlangsung lama, maka virtual
experience akan menjadi sesuatu banget. Keunggulannya: “more efficent, more
convenient, more personal”.
21. The
Emerging VirSocial
Aktivitas
bersama-sama baik nongkrong, olahraga, senam, meditasi dan yoga, hingga
nge-game dilakukan secara virtual. Kami menyebutnya “VirSocial” (virtual
social). Beberapa minggu terakhir misalnya, marak aktivitas “nongkrong”
temen-teman sekantor, sekampung, sekomunitas, atau sesama alumni SD hingga
kuliah yang dilakukan via Zoom. Ini adalah kebiasaan baru yang sebelumnya tak
dikenal.
22.
Flexible Working Hours: From “9-to-5” to “3-to-2”
Dalam buku
Millennials Kill Everything (2019) saya mengatakan, ke depan milenial
“membunuh” jam kerja “9-to-5”. Rupanya Covid-19 membunuhnya lebih cepat. Dengan
work from home (WFH), karyawan bereksperimen menjalankan pola kerja flexible
working hour (FWH). Maka jam kerja “9-to-5” nantinya akan berubah menjadi
“3-to-2” yaitu jam kerja 3 hari di kantor dan 2 hari di rumah dalam seminggu.
23. The
Birth of Zoom Generation
Kalau
generasi milenial sering disebut “Instagram Generation” dan Gen-Z adalah
“Snapchat Generation”. Maka setelahnya, kita akan menyongsong lahirnya “Zoom
Generation”. Kalau generasi milenial dan Gen-Z tumbuh di tengah keajaiban
teknologi digital (internet, media sosial, tech startup), Generasi Zoom tumbuh
di tengah dunia yang rapuh oleh ancaman pandemi dan risiko hidup yang tinggi.
Maka Zoom menjadi “the new Google”.
24. Cloud
Lifestyle
Kebiasaan
baru work from home, tuntutan collaborative working, dan maraknya gig economy
akan mendorong melonjaknya penggunaan platform sharing yang tersedia via cloud.
Maka konsumsi layanan cloud baik SaaS (software as a services), IaaS
(infrastructure as a services), PaaS (platform as a services) akan masuk babak
baru pertumbuhan eksponensial. Tren ini akan memunculkan cloud lifestyle dimana
karyawan bisa bekerja dengan aplikasi dan data yang tersimpan di cloud dan bisa
diakses di manapun dan kapanpun.
25.
Telemedicine: from Visit to Virtual
Blessing in
disguise, krisis pandemi akan menjadi akselerator revolusi di dunia kesehatan
yaitu telemedicine dan virtual health. Seperti halnya remote working dan online
learning, konsumen dipaksa untuk mengadopsi gaya baru berobat yaitu secara virtual.
26.
Online+Home-Schooling
COVID-19
memicu dua tren sekaligus dalam proses pembelajaran. Pertama pembelajaran
secara online (“online-schooling”) dengan menggunakan platform digital. Kedua
peran orang tua yang semakin besar dalam proses pembelajaran anak
(”home-schooling”). Saya menyebut dua tren ini: “online+home-schooling”.
Online+home-schooling mengubah secara mendasar wajah dunia pendidikan ke depan.
27. Ibadah
Virtual
COVID-19
turut mengubah perilaku masyarakat dalam beribadah. Sholat berjamaah sementara
tidak bisa dilakukan, begitu pula kebaktian atau ibadah di gereja. Solusinya
adalah melakukan ibadah secara virtual. Untuk umat Nasrani bisa melakukan
ibadah secara virtual dengan live streaming. Bagi umat muslim sholat jamaah di
masjid diganti dengan sholat di rumah. Namun, dakwah atau pengajian masih bisa
dilakukan secara virtual.
28. The
Rise of Empathy and Solidarity
Krisis
COVID-19 merupakan bencana kemanusiaan paling dahsyat abad ini dengan korban
nyawa manusia yang begitu besar. Hikmahnya, COVID-19 telah menciptakan
solidaritas dan kesetiakawanan sosial. COVID-19 telah menciptakan masyarakat
baru yang empatik, penuh cinta, dan welas asih terhadap sesamanya. Sesuatu yang
langka ketika wabah belum mendera.
29. From
Drone Parenting to Positive Parenting
30. More
Suffering, More Religious
Di tengah
krisis COVID-19, agama menjadi tempat bersandar mencari ketenangan sekaligus
harapan. Sebagian besar masyarakat menganggap krisis ini adalah bencana atau
hukuman yang diberikan Tuhan, bahkan dianggap tanda-tanda hari akhir akan tiba.
Masyarakat Indonesia adalah masyarakat religius, cobaan COVID-19 semakin
mendekatkan mereka kepada Tuhan. Karena di tengah wabah ajal bisa setiap saat
datang maka mereka memperbanyak amal-ibadah untuk bekal ke akherat.
Monggo daging semua.






0 Comments:
Posting Komentar