Blog ini berisi tulisan orang lain. Sengaja saya kumpulkan disini agar bisa dibaca lagi di lain waktu, oleh saya dan oleh kita semua.
WHAT'S NEW?
Loading...

MENGAPA KHGT BELUM BANYAK DIGUNAKAN?



Tidak ada satupun negara yang menerapkan KHGT karena pergantian tanggal KHGT sekitar 24.00 GMT di sebelah barat International Date Line BUKAN berdasarkan waktu maghrib. Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) dicetuskan dalam Konferensi Penyatuan Kalender Hijriyah yang diadakan di Istanbul, Turki pada tanggal 21–23 Sya’ban 1437 H (28–30 Mei 2016 M).

 

TIDAK ADA satupun negara yang menerapkan KHGT dan baru SEBATAS MAKALAH atau KAJIAN. Contoh yang menerapkan KHGT ormas Muhammadiyah sebagaimana tulisan pada situs (website) resmi muhammadiyah or id dengan judul tulisan "Mengapa 1 Ramadan 1447 H Jatuh pada 18 Februari 2026? Ini Penjelasan Majelis Tarjih PP Muhammadiyah"

 

***** awal kutipan *****

 

Keputusan Majelis Tarjih, seluruh kawasan dunia dipandang sebagai satu kesatuan. Bulan baru dimulai secara serentak apabila sebelum pukul 24.00 GMT terdapat wilayah daratan di bumi yang memenuhi dua syarat astronomis berikut:

 

- Elongasi bulan–matahari minimal 8 derajat.

- Ketinggian hilal saat matahari terbenam minimal 5 derajat.

 

Apabila kriteria ini belum terpenuhi sebelum pukul 24.00 GMT, masih tersedia parameter lanjutan, yakni:

- Ijtimak (konjungsi) harus terjadi di Selandia Baru sebelum fajar, karena wilayah ini merupakan kawasan berpenduduk paling awal menyambut hari baru di bumi.

- Pada saat yang sama, parameter 5 derajat dan 8 derajat harus terpenuhi di daratan benua Amerika, yang menjadi patokan akhir siklus 24 jam global.

 

Hasil perhitungan menunjukkan bahwa ijtimak di Selandia Baru terjadi sebelum waktu fajar setempat. Pada Februari, Selandia Baru menggunakan waktu musim panas (UTC +13), sehingga konjungsi berlangsung sekitar pukul 01.00 dini hari waktu lokal, sementara fajar terjadi setelahnya. Dengan demikian, syarat pertama terpenuhi.

 

Selanjutnya ditinjau kondisi di benua Amerika. Berdasarkan perhitungan geosentrik (berbasis pusat bumi), wilayah Bethel, Alaska, menunjukkan elongasi telah mencapai lebih dari 8 derajat dan ketinggian hilal melampaui 5 derajat.

 

***** akhir kutipan *****

 

Perbedaan paling mendasar antara Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT) dengan contohnya Kalender Hijriyah Nasional Turki (KHNT) terletak pada cara memandang permulaan hari Hijriah. KHGT pada praktiknya menerapkan konsep bahwa tanggal Hijriyah global dimulai mengikuti siklus hari internasional bumi yang berporos pada kawasan di sebelah barat International Date Line (IDL), yang secara praktis berkorespondensi dengan pergantian hari sekitar pukul 24.00 GMT / 00.00 UTC. Sementara itu, KHNT tetap mempertahankan prinsip klasik bahwa awal hari Hijriyah dimulai sejak maghrib syar‘i.

 

Dalam tulisan mereka lainnya berjudul "Penjelasan Terkait Penetapan 1 Ramadan 1447 H Berbasis Fakta Astronomi di Alaska", dalam sistem KHGT, bumi dipandang sebagai satu hamparan waktu global yang bergerak terus selama 24 jam dari Pasifik menuju barat melewati Selandia Baru, Australia, Asia, Afrika, Eropa, hingga Amerika. Oleh karena itu, selama siklus hari global tersebut belum selesai, keterpenuhan syarat hilal di bagian bumi mana pun masih dapat dijadikan dasar penetapan awal bulan bagi seluruh dunia.

 

Dengan kata lain, KHGT tidak menjadikan maghrib lokal sebagai batas final penentuan masuknya bulan baru, melainkan memakai konsep “hari global internasional”. Hal tersebut tampak dalam penetapan 1 Ramadan 1447 H. KHGT menetapkan bahwa 1 Ramadan jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Dalam penerapannya, tanggal global 18 Februari dianggap mulai sejak kawasan Pasifik dekat IDL memasuki hari baru.

 

Selanjutnya, sistem KHGT memeriksa apakah sebelum siklus global itu berakhir terdapat wilayah bumi yang memenuhi parameter "terlihat" hilal secara matematis yakni tinggi hilal minimal 5° dan elongasi minimal 8° dengan acuan pusat bumi (geosentris). Berdasarkan perhitungan astronomi, parameter tersebut akhirnya terpenuhi di Bethel. Karena Alaska masih berada dalam hamparan hari global 18 Februari, maka keterpenuhan parameter itu dianggap sah berlaku untuk seluruh bumi, termasuk Indonesia walaupun saat maghrib lokal hilal masih berada di bawah ufuk.

 

Sedangkan KHNT Turki tetap memandang bahwa awal bulan Hijriyah harus terikat pada maghrib yang memulai malam Hijriah. Dalam penjelasan resmi Diyanet İşleri Başkanlığı, peluang pertama hilal mungkin terlihat secara astronomis baru terjadi pada Rabu, 18 Februari 2026 sekitar pukul 06:42 waktu Turki di kawasan Samudra Pasifik. Namun momen tersebut terjadi setelah maghrib yang telah memulai malam Hijriyah sebelumnya. Oleh karena itu, menurut pendekatan KHNT, keterlihatan tersebut tidak dapat dipakai untuk menetapkan masuknya bulan baru pada malam yang sudah berjalan.

 

KHNT menjadikan maghrib sebagai batas awal hari Hijriyah, maka peluang rukyat yang baru muncul setelah maghrib dianggap terlambat secara fiqih. Akibatnya, bulan Sya’ban harus diistikmalkan menjadi 30 hari dan 1 Ramadan ditetapkan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.

 

Dengan demikian, walaupun KHGT dan KHNT sama-sama menggunakan konsep kalender global, keduanya berbeda secara prinsip dalam dasar penentuan waktu: KHGT berorientasi pada siklus hari global yang dimulai sekitar 24.00 GMT/ 00.00 UTC di sekitar IDL, sedangkan KHNT tetap mempertahankan maghrib syar‘i sebagai awal hari dan awal bulan Hijriah.

 

Metode Hisab Modern yakni metode hisab Imkanur Rukyat TIDAK BERHENTI pada keberadaan atau eksistensi hilal di atas ufuk sebagaimana metode hisab kuno Wujudul Hilal yakni BERAPAPUN ketinggian hilalnya (tinggi positif). NAMUN melangkah lebih jauh yakni MENGHITUNG apakah posisi bulan setelah ijtima sudah berada pada kondisi yang secara astronomi MEMUNGKINKAN untuk DILIHAT sesuai SUNNAH Rasulullah yakni dari permukaan bumi (toposentris).

 

"Imkān” (إمكان) artinya MUNGKIN. Sedangkan metode hisab kuno adalah metode hisab yang masih menggunakan acuan pusat bumi (geosentris). Dalam astronomi, posisi Bulan yang dihitung dari pusat Bumi (geosentris) tidak sama dengan posisi yang terlihat oleh pengamat di permukaan Bumi yang yang jaraknya sekitar 6.371 kilometer dari pusat Bumi. Dalam praktik hisab, elongasi yakni jarak sudut Bulan–Matahari, umumnya dihitung secara geosentris sehingga relatif stabil.

 

Namun, TINGGI hilal memiliki PERBEDAAN yang signifikan antara pendekatan geosentris dan toposentris akibat pengaruh paralaks Bulan yakni perbedaan sudut pandang karena Bulan merupakan benda langit yang relatif dekat dengan Bumi. Dalam banyak kasus, TINGGI hilal secara GEOSENTRIS dapat lebih tinggi sekitar 0,5° hingga 1° dibandingkan tinggi hilal yang dihitung dari permukaan bumi.

 

PERBEDAAN atau selisih yang tampak kecil ini justru sangat menentukan KETIKA perbedaan atau selisih tersebut berada TEPAT di AMBANG BATAS kriteria visibilitas (5°). Akibatnya, suatu kondisi dapat dinyatakan memenuhi kriteria menurut pendekatan geosentris, tetapi belum memenuhi menurut pendekatan toposentris, sehingga dalam perspektif imkanur rukyat hilal tersebut masih dianggap belum mungkin terlihat.

 

Arab Saudi juga menetapkan 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada hari Rabu, 18 Februari 2026 secara rukyat langsung berdasarkan kesaksian perukyat Selasa 17 Februari 2026 yang dinilai adil secara syar’i seperti tidak berbohong NAMUN kesaksiannya TANPA diuji secara astronomis. Sedangkan FAKTA dari FENOMENA Ramadhan 1447 H kondisi hilal pada hari Selasa, 17 Februari 2026 (29 Sya'ban 1447 H) secara Peta Visibilitas Hilal Global masih berada di zona “tidak mungkin terlihat".

 

Para astronom dunia mengkritik Arab Saudi karena adanya PERBEDAAN signifikan antara kesaksian lapangan dan prediksi astronomi modern. Kondisi Astronomi Hilal 17 Februari 2026 Data astronomi global menunjukkan: Umur bulan: ± 20 jam, Tinggi hilal: ± 3°–5°, Elongasi: ± 6°–8°.

 

Dalam analisis visibilitas menggunakan:

Kriteria Bernard D. Yallop dan Kriteria Mohammad Odeh posisi hilal berada pada: zona tidak mungkin terlihat atau sangat sulit terlihat oleh mata manusia. Nilai visibilitas (q-value) berada di kisaran: q ≈ -0.15 hingga -0.20 yang secara ilmiah menunjukkan probabilitas keterlihatan mendekati nol.

 

Lembaga Astronomi UEA, Sharjah Academy for Astronomy, Space Sciences and Technology (SAASST) menyatakan: Hilal pada Selasa, 17 Februari 2026 mustahil terlihat secara sains, bahkan dengan teknologi observasi modern. Mereka juga memprediksi: 1 Ramadhan seharusnya jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.

 

Pernyataan Astronom Internasional, Mohammad Shaukat Odeh menegaskan: Hilal tidak mungkin terlihat, baik dengan mata telanjang, teleskop, maupun instrumen astronomi canggih. Beliau juga menjelaskan bahwa: jarak sudut bulan–matahari sangat kecil, kondisi geometris tidak mendukung visibilitas.

 

Fenomena Ramadhan 1447 H dapat digunakan untuk "mengkritisi" atau "mempertanyakan" VALIDITAS Kriteria Visibilitas teroritis KHGT, apakah kriteria tinggi ≥ 5° dan Elongasi ≥ 8° cukup merepresentasikan visibilitas hilal sebenarnya yakni benar-benar cukup merepresentasikan kemungkinan terlihat oleh mata manusia di berbagai lintang bumi.

 

Oleh karenanya model Visibilitas modern biasanya mempertimbangkan lebih banyak parameter, misalnya tinggi bulan terhadap horizon, elongasi bulan–matahari, umur bulan, ketebalan sabit bulan, kontras cahaya terhadap langit senja, hamburan atmosfer dengan tujuan memprediksi human visibility.

 

Tinggi hilal ≥ 5° selalu diukur terhadap ufuk (horizon) lokal saat matahari terbenam, sehingga posisi geografis suatu tempat sangat menentukan. Sudut bulan terhadap horizon (ufuk) berbeda antara wilayah tropis dan wilayah lintang tinggi. Di lintang rendah, seperti wilayah tropis termasuk Indonesia, sudut ekliptika terhadap horizon saat maghrib pada banyak periode dalam setahun cenderung lebih curam dibanding lintang tinggi. Ketika sudut ini lebih curam, hilal akan lebih cepat memiliki ketinggian yang memadai setelah matahari terbenam dan kontrasnya terhadap langit senja lebih baik.

 

Sebaliknya, di lintang tinggi seperti Alaska (sekitar 60° LU), sudut ekliptika terhadap horizon sering lebih landai, senja berlangsung lebih lama, dan kontras hilal terhadap cahaya langit bisa lebih lemah. Secara angka mungkin memenuhi batas minimal, tetapi secara visibilitas nyata belum tentu layak terlihat. Di sinilah letak persoalan utama dalam upaya globalisasi kalender hijriah karena visibilitas hilal pada hakikatnya adalah fenomena lokal yang bergantung pada kondisi ufuk dan posisi pengamat.

 

Ketika pendekatan global dipaksakan, maka akan muncul kondisi di mana suatu wilayah telah dinyatakan memasuki bulan baru, sementara di wilayah lain hilal belum mungkin terlihat secara nyata. Keseragaman yang dihasilkan menjadi tidak selaras dengan realitas observasi. Dengan demikian, ketergantungan kriteria imkanur rukyat terhadap lokasi bukanlah kelemahan, melainkan justru bentuk ketepatan ilmiah.

 

Sebaliknya, pendekatan geosentris dalam KHGT memang menghasilkan keseragaman global, tetapi dengan konsekuensi mengabaikan variasi nyata kondisi pengamatan di berbagai lintang bumi.

 

Kesimpulannya, kalender hijriyah tidak dapat diseragamkan secara global tanpa mengabaikan realitas astronomi. Hilal adalah fenomena yang terlihat dari permukaan bumi dengan kondisi yang berbeda-beda di setiap wilayah. Oleh karena itu, pendekatan berbasis lokasi (toposentris) justru lebih mencerminkan makna “terlihatnya hilal” secara nyata.

 

Sedangkan usulan untuk meniadakan sidang itsbat untuk mendapatkan kepastian Kalender Hijriyah Nasional jauh hari sebelumnya adalah menggunakan Hisab Imkan Rukyat dengan MENYEPAKATI Kriteria Visibilitas Hilal yang DAPAT dilihat oleh mata dan divalidasi terus menerus dengan data rukyat nyata untuk memperbarui kriteria agar semakin akurat sebagai upaya MENAATI SUNNAH Rasulullah dalam penentuan awal bulan dengan cara Rukyat.

 

Penyatuan Kalender Hijriah sejatinya tidak harus bersifat global. Justru penyatuan di tingkat regional atau nasional yakni wilayah hukum lebih SESUAI dengan tuntunan hadits, realitas astronomi, dan prinsip fiqh yang telah lama dipraktikkan. Upaya yang sedang ditempuh Kementerian Agama Republik Indonesia untuk menyatukan penanggalan Hijriyah di tingkat nasional patut dipahami dalam kerangka ini, bukan menolak persatuan umat, tetapi menegakkan kebersamaan yang realistis dan BERSANDAR pada sunnah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

 

PERBEDAAN hilal adalah KENISCAYAAN ilmiah dan telah diakui dalam khazanah fiqh klasik. NAMUN perpecahan hari berpuasa dan hari raya dalam satu wilayah hukum BUKANLAH pilihan syar’i. Islam tidak menuntut keseragaman global yang mengabaikan konteks geografis, melainkan menegaskan kebersamaan umat dalam ruang hidupnya masing-masing. Dengan demikian, Hilal BOLEH berbeda namun dalam SATU negeri, berpuasa dan berlebaran seyogianya tetap SATU. Wassalam.

 

Zon di Jonggol, Kabupaten Bogor 16830

 

Sumber : FB Zon di Jonggol

 

0 Comments:

Posting Komentar