Oleh: Agus Pranowo
عبْد الله بن عَبّاسٍ -رَضِي اللهُ
عَنْهُما- قالَ: كُنْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-
يَوْمًا، فَقَالَ: ((يَا غُلاَمُ، إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ؛ احْفَظِ اللهَ
يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ،
وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ
اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ
قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ
لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ
الأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ))
“Abdullah bin ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhuma–
menceritakan, suatu hari saya berada di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam. Beliau bersabda, “Nak, aku ajarkan kepadamu beberapa untai kalimat: Jagalah
Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kau dapati Dia di
hadapanmu. Jika engkau hendak meminta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau
hendak memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, seandainya
seluruh umat bersatu untuk memberimu suatu keuntungan, maka hal itu tidak akan
kamu peroleh selain dari apa yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan andaipun
mereka bersatu untuk melakukan sesuatu yang membahayakanmu, maka hal itu tidak
akan membahayakanmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu. Pena
telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.”
Takhrij Hadits
Sejumlah ulama pengumpul hadis telah mengabadikan
hadis ini di dalam karya tulis mereka. Di antaranya adalah: Imam Tirmidzi di
dalam kitab beliau Sunan At Tirmidzi no. 2516, Imam Ahmad bin Hambal di dalam kitab Al Musnad: 1/307, dan
beberapa ulama lainnya.
Biografi Singkat Perawi Hadits
Untaian nasihat ini disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada sahabat
kecil beliau, Abdullah bin Abbas. Putra pamannya inilah yang pernah beliau
doakan, “Ya Allah,
pahamkan dia terhadap agama dan ajarilah ia ilmu tafsir”. Berkat berkah doa Rasulullah ini ia menjadi seorang yang pakar dalam
tafsir Alquran dan pakar dalam ilmu agama lainnya, hingga beliau digelari
“Habrul Ummah” (Ahli Ilmu Umat ini). Pemuda yang juga bergelar al bahru (samudera
ilmu) ini dilahirkan tiga tahun menjelang peristiwa Hijrah nabi Muhammad shallallahu
‘alaihi wasallam dan meninggal dunia pada tahun 67 atau 68 hijriyah.
Penjelasan Hadits
Di dalam hadis ini Rasulllah shallallallahu ‘alaihi
wasallammewasiatkan beberapa untai kalimat kepada Ibnu ‘Abbas,
Untaian Kalimat yang Pertama, ‘Jagalah Allah,
niscaya Dia akan menjagamu’.
Melalui putra pamannya itu, Nabi mengajarkan kita
semua, bila kita menjaga Allah dengan sebaik-baiknya, Allah pasti akan menjaga
kita dengan penjagaan yang melebihi upaya kita. Menurut para ulama, menjaga
Allah artinya menjaga batasan-batasan-Nya, hak-hak, perintah-perintah, serta
larangan-larangan-Nya. Bentuk aplikasinya adalah dengan berkomitmen untuk
menjalankan perintah Allah, menjauhi larangan-Nya, dan tidak melampaui batasan
yang dilarang oleh-Nya. Jika semua itu dikerjakan, maka ia termasuk orang yang
menjaga Allah sebaik-baiknya. Pemilik kriteria inilah yang disanjung oleh Allah Ta’ala,
هَذَا مَا تُوعَدُونَ لِكُلِّ أَوَّابٍ
حَفِيظٍ
“(Kepada mereka dikatakan), “Inilah nikmat
yang dijanjikan kepadamu, kepada setiap hamba yang senantiasa bertobat (kepada
Allah) dan menjaga (segala peraturan-peraturan-Nya).” (QS. Qaf: 32)
Di antara hak-hak Allah yang paling agung yang
wajib dijaga oleh seorang hamba adalah memurnikan segala bentuk ibadah hanya
kepada-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Mu’adz,
“Wahai Mu’adz, tahukah engkau apa hak Allah atas hamba-Nya?” Mu’adz menjawab,
“Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Kemudian Rasulullah bersabda, ‘Hak
Allah atas hamba-Nya adalah beribadah hanya kepada-Nya dan tidak
menyekutukan-Nya.” (HR. Bukhari: 2856 dan Muslim: 48)
Juga termasuk upaya menjaga Allah adalah menjaga
shalat agar senantiasa tepat pada waktunya. Demikian juga termasuk
dalam upaya menjaga Allah adalah menjaga lisan dari segala bentuk kedustaan,
perkataan kotor, adu domba, menggunjing, dan menjaga kemaluan serta menundukkan
pandangan. Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam bersabda;
اضْمَنُوالِيسِتًّامِنْأَنْفُسِكُمْأَضْمَنْلَكُمْالْجَنَّةَ،
اُصْدُقُواإذَاحَدَّثْتُمْ، وَأَوْفُواإذَاوَعَدْتُمْ،
وَأَدُّواإذَااؤْتُمِنْتُمْ، وَاحْفَظُوافُرُوجَكُمْ ، وَغُضُّواأَبْصَارَكُمْ،وَكُفُّواأَيْدِيَكُمْ
“Jika kalian bisa menjamin enam hal, maka aku
akan jamin kalian masuk surga: [1] Jujurlah dalam berucap; [2] tepatilah
janjimu; [3] tunaikanlah amanatmu; [4] jaga kemaluanmu; [5] tundukkan
pandanganmu; [6] dan jaga perbuatanmu.” (HR. Al Hakim:8066 dan Ibnu Hibban:
107)
Jika seseorang telah menjaga Allah dengan menjaga
hak, perintah, dan larangan-Nya, maka konsekuensinya Allah akan mengganti
dengan yang lebih baik. Yaitu, “Niscaya Allah akan menjagamu.” Orang yang
bersedia untuk menjaga Allah maka Allah akan membalasnya dengan penjagaan pula,
bahkan penjagaan Allah tentu lebih baik.
Menurut Ibnu Rajab, penjagaan Allah itu mengandung
dua unsur:
Pertama, Allah akan
menjaga hamba-Nya yang saleh dengan memenuhi kebutuhan dunianya, seperti
terjaga badan, anak, keluarga, dan hartanya. Di antara bentuk penjagaan jenis
ini, Allah menciptakan malaikat yang bertugas menjaga manusia. Allah berfirman,
لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ
وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ
“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu
bergiliran menjaganya dari depan dan dari belakang, mereka menjaganya atas
perintah Allah.” (QS. Ar Ra’du: 11)
Dan ada kalanya jika Allah ingin menjaga
hamba-Nya, maka Allah akan menjaga anak keturunannya, meskipun ia sudah tiada.
Hal ini sebagaimana telah Allah buktikan dalam kisah dua anak yatim yang
ditolong oleh Khidir. Anak tersebut ditolong lantaran orang tuanya adalah orang
yang saleh. Allah berfirman,
وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا
“Dan ayahnya adalah seorang yang saleh” (QS. Al Kahfi:
82)
Berkenaan dengan ayat ini, imam Al Baghawi
menukilkan perkataan Muhammad bin Munkadir, “Sesungguhnya berkat kesalehan
seorang hamba, Allah akan menjaga anak keturunannya, sanak famili, dan
keluarganya, serta orang-orang yang ada di sekitar rumahnya”.
Kedua, Allah akan menjaga agama dan imannya, inilah penjagaan yang paling agung dan mulia. Hamba itu terjaga dari
perkara syubhat yang menyesatkan dan dari syahwat yang diharamkan. Hal ini sebagaimana telah
Allah buktikan pada nabi Yusuf ketika ia digoda oleh seorang perempuan jelita
berdarah biru. Wanita tersebut mengajak Yusuf untuk melakukan perbuatan keji di
sebuah ruangan yang sangat sepi. Meskipun Yusuf juga berhasrat kepadanya, akan
tetapi Allah menjaganya sehingga ia selamat dari perbuatan keji tersebut. Allah
berfirman,
كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ
وَالْفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ
“Demikianlah kami palingkan Yusuf dari
keburukan dan kekejian. Sungguh dia terasuk dari hamba kami yang terpilih.” (QS. Yusuf: 24)
Itulah rahasia yang tersirat di dalam firman
Allah,
وَاعْلَمُواأَنَّاللَّهَيَحُولُبَيْنَالْمَرْءِوَقَلْبِهِ
“Ketahuilah sesungguhnya Allah membatasi antara
seorang hamba dan hatinya.” (QS. Al Anfal: 24)
Imam Ath Thabari menjelaskan makna ayat ini dengan
menukil perkataan Imam Adh Dhahak, “Maksudnya Allah memberi pembatas antara
orang kafir dengan ketaatan, dan memberi pembatas antara orang mukmin dengan
kemaksiatan.”
Itulah balasan dari Allah kepada hamba-Nya yang
sudi menjaga Allah Ta’ala. Adapun orang yang tidak mau menjaga Allah, maka Allahpun juga enggan
menjaganya.
Untaian Kalimat Kedua, “Jagalah Allah, niscaya kau
dapati Dia di hadapanmu“
Maksudnya jika engkau menjaga Allah maka Dia
senantiasa di depanmu untuk membimbingmu menuju jalan-jalan kebaikan, serta
mencegahmu dari segala keburukan. Untaian kalimat kedua ini menjadi penguat
dari untaian kalimat yang pertama.
Dari penjelasan di atas, maka bisa diambil faedah
bahwa orang yang menjaga Allah maka ia akan mendapatkan dua manfaat sekaligus:
·
Mendapatkan
penjagaan dari Allah
·
Allah akan
sentiasa membimbing di depannya
Ini membuktikan betapa luar biasa balasan dan
apresiasi Allah kepada hamba-Nya. Kita sadari, betapa pun upaya kita menjaga
Allah, tetap saja kita tidak akan pernah bisa melakukan yang terbaik sesuai
dengan perintah-Nya. Tapi, Allah selalu membalas dengan balasan terbaik yang
sejatinya itu jauh tak sebanding dengan usaha kita yang serba terbatas.
Sungguh tidak pantas jika kita berupaya menjaga
Allah dengan segenap ibadah akan tetapi ibadah tersebut kita nodai dengan riya dan kesyirikan.
Untaian Kalimat Ketiga, “Jika engkau
hendak meminta, mintalah kepada Allah.”
Artinya, jika engkau hendak menginginkan sesuatu,
maka mintalah kepada Allah, jangan meminta kepada makhluk, sebab Allah adalah
Maha Pencipta. Dia-lah yang mampu mengabulkan segala permintaan hamba-Nya,
sedangkan makhluk serba diliputi keterbatasan, seringkali tidak mampu atau
tidak mau.
Di samping itu, meminta dan berdoa kepada Allah
adalah ibadah yang Allah perintahkan kepada hamba-Nya. Bahkan di situlah
seorang hamba menampakkan kerendahannya, mengemis, meminta kepada Allah Yang
Maha Agung. Olehkarena itu Allah memerintahkan,
وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ
“Mohonlah kepada Allah sebagian karunia-Nya.” (QS. An Nisa: 32)
Lebih dari itu, bahkan Allah murka kepada orang
yang tidak mau meminta kepada-Nya. Allah berfirman,
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ
لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ
دَاخِرِينَ
“Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku,
niscaya akan Aku kabulkan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak
mau menyembah-Ku akan masuk ke neraka Jahanam.” (QS. Al Mu’minun: 60)
Benarlah seorang pujangga Arab mengatakan,
لاَتَسـْــألَــنَّبُنــيِّآدمَحَــاجَــةوَسَــــلِالذِيأَبْوَابُــــهُلَايُحـْجَــب
اللـهُ يَغـْضَـبُ إنْ تَرَكْـتَ
سُــؤَالَهوبني آدم حيــنَ يُـسْـــأَلُ يَغْضـَــبُ
Nak, jangan pernah kau meminta kepada hamba
Mintalah kepada pemilik pintu yang sentiasa
terbuka
Sungguh Allah murka jika kau tak meminta
kepada-Nya
Sedangkan anak adam akan murka jika kau meminta
kepadanya
Untaian Kalimat Keempat, “Jika engkau hendak
memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah.”
Pantaslah jika kita diperintahkan untuk meminta
pertolongan kepada Allah, sebab Dia-lah yang memiliki kerajaan langit dan bumi.
Itulah sebabnya kita diwajibkan untuk berdoa dalam setiap shalat kita,
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ
نَسْتَعِينُ
“Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya
kepada-Mu kami memohon pertolongan.” (QS. Al Fatihah: 4)
Untaian Kalimat Kelima, “Ketahuilah, seandainya
seluruh umat bersatu untuk memberimu suatu keuntungan,
maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang telah Allah tetapkan
untukmu”
Rasulullah mengawali untaian ini dengan perkataan,
“Ketahuilah”. Ini menunjukkan untaian kalimat ini merupakan kalimat yang penting
untuk diketahui. Makna hadis ini, seandainya seluruh manusia atau bahkan seluruh makhluk
bersatu untuk memberikan keuntungan kepadamu, maka hal itu tidak akan kamu
dapatkan, kecuali jika Allah telah menakdirkannya di lauh mahfudz.
Dengan untaian nasihat ini Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam mengajarkan kepada kita bagaimana seharusnya kita beriman kepada
takdir. Pada hakikatnya seluruh manusia tidak bisa memberikan manfaat kepada
sesamanya, kecuali dengan takdir Allah. Jika demikian sudah seharusnya seluruh
permintaan kita ditujukan kepada Allah semata, bukan kepada sesama manusia.
Sebab pada hakikatnya yang bisa memberikan manfaat hanyalah Allah semata.
Untaian Kalimat Keenam, “Dan andaipun mereka
bersatu untuk melakukan sesuatu yang membahayakanmu,
maka hal itu tidak akan membahayakanmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan
untuk dirimu.”
Ini juga menunjukan bahwa seluruh mara bahaya pada
hakikatnya datang dari Allah, terjadi dengan takdir dan kehendak-Nya. Jika
demikian halnya maka sudah semestinya kita memohon perlindungan hanya kepada
Allah, bukan kepada makhluk. Sebab pada hakikatnya hanya Dia yang mampu
mencegah dan mendatangkan mara bahaya.
Untaian Kalimat Ketujuh, “Pena telah
diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.”
Yang dimaksud dengan “pena” di sini adalah pena
yang menulis seluruh takdir manusia. Sedangkan maksud dari “lembaran-lembaran”
adalah lembaran yang digunakan untuk mencatat takdir. Ini artinya seluruh
perkara dan kejadian sudah ditetapkan. Apapun yang ditetapkan untuk kita,
baik-buruknya pasti akan terjadi. Tidak ada gunanya berkeluh kesah terhadap apa yang
menimpa kita. Sebab itu semua datang dari Allah Ta’ala.
Demikanlah bunga rampai nasihat yang disampaikan
oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Semoga kita bisa mengambil manfaat darinya,
sebagaimana Ibnu ‘Abbas telah banyak mengambil manfaat darinya.
—
Jember, 17 desember 2013
Referensi
1. Ibnu Rajab, Adur Rahman. (1429 H). Jami’ul ‘Ulum wal
Hikam. Arab Saudi: Dar Ibnul Jauzi.
2. Al ‘Utsaimin, Muhammad. (1433 H). Syarh Al Arba’in
An Nawawiyah. ‘Unaizah, KSA: Muassah Syaikh ‘Utsaimin.
3. Fauzan, Shalih. (2008). Syarh Al Arba’in An
NAwawiyah. Riyadh, KSA: Darul ‘Ashifah.
4. Al Baghawi, Al Husain bin Mas’ud. (1432 H). Ma’alimut Tanzil.
Riyadh, KSA: Dar Ath Thayyibah.
5. Al Albani, Nashiruddin. (1995). Silsilah Al
Ahadits As Shahihah. Riyadh, KSA: Maktabah Al Ma’arif.
Sumber: https://muslim.or.id/19367-jagalah-allah-ia-akan-menjagamu.html
Copyright © 2024 muslim.or.id

0 Comments:
Posting Komentar